HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menyatakan pihaknya akan menggelar pertemuan dengan pejabat Denmark pada pekan depan untuk membahas tuntutan Washington terkait Greenland. Hal tersebut disampaikan Rubio kepada wartawan di Gedung Capitol AS, Rabu (7/1).
“Saya akan bertemu dengan mereka pekan depan. Kami akan melakukan pembicaraan pada saat itu,” ujar Rubio, dikutip Holopis.com, Kamis (9/1).
Dalam keterangannya, Rubio juga berupaya meredam pernyataan Gedung Putih yang sebelumnya menyebut penggunaan kekuatan militer sebagai salah satu opsi dalam isu Greenland. Ia menegaskan bahwa setiap presiden memang selalu mempertahankan berbagai opsi, namun jalur nonmiliter tetap menjadi pilihan utama.
“Setiap presiden selalu mempertahankan opsi penggunaan kekuatan, tetapi kami selalu lebih memilih menyelesaikannya dengan cara lain,” kata Rubio.
Pernyataan tersebut muncul setelah Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, dalam keterangan tertulis kepada Xinhua pada Selasa (6/1), menyebut bahwa penggunaan militer AS tetap menjadi salah satu opsi Presiden Donald Trump dalam menanggapi tuntutan atas Greenland.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt secara resmi mengajukan permintaan pertemuan dengan Rubio untuk membahas situasi yang kian memanas. Pemerintah Denmark dan Greenland berulang kali menegaskan bahwa wilayah Arktik tersebut tidak untuk diperjualbelikan.
Meski demikian, sejumlah media AS melaporkan bahwa dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen pada Senin (5/1), Rubio menyampaikan bahwa ancaman terbaru Trump tidak menunjukkan adanya rencana invasi dalam waktu dekat. Ia menyebut tujuan utama Gedung Putih adalah upaya pembelian Greenland dari Denmark.
Sikap AS tersebut memicu respons keras dari Eropa. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, dengan dukungan sejumlah pemimpin Eropa, memperingatkan bahwa serangan militer terhadap sesama anggota NATO akan berdampak serius terhadap keberlangsungan aliansi tersebut.
“Jika AS memilih untuk menyerang negara NATO lainnya secara militer, maka semuanya akan berhenti, termasuk NATO dan keamanan yang telah dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua,” ujar Frederiksen pada Senin.
Di tengah ketegangan tersebut, Presiden AS Donald Trump kembali memicu polemik dengan pernyataannya di Truth Social pada Rabu, di mana ia menyatakan keraguannya apakah NATO akan membela AS ketika negara itu membutuhkan dukungan.
Sebagai informasi, Denmark merupakan anggota NATO sekaligus Uni Eropa.

