HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto mengaku ada kritik terkait dirinya yang bakal menghidupkan kembali isu militerisme. Prabowo pun minta pakar untuk mengkaji gaya kepemimpinannya sebagai Presiden agar objektif.
Politikus Partai Gerindra yang juga Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon beri pandangannya soal Prabowo melalui cuitan di akun X. Eks Wakil Ketua DPR itu membagikan link cuitan akun X miliknya ke awak media. Saat dikonfirmasi, Fadli mempersilakan Holopis.com mengutip cuitannya itu untuk pemberitaan.
Menurut dia, figur Prabowo terjun ke politik dengan menjadi politikus lalu mendirikan Partai Gerindra. Fadli menyebut Prabowo juga beberapa kali ikut kontestasi politik dengan hasil kalah kemudian menang. Proses politik yang dilalui Prabowo merupakan jalan yang beradab.
“P @prabowo memilih jalan demokrasi, masuk partai politik, lalu membangun partai politik, ikut kontestasi politik, kalah dan menang. Dilakukan berpuluh tahun, jalan yang beradab (civilized),” tulis Fadli di akun X yang dikutip pada Selasa, (6/1/2026).
Dia mengaku jadi salah seorang saksi perjalanan Prabowo. Lebih dari 30 tahun Fadli mengenal sosok Ketua Umum Partai Gerindra itu.
Bagi Fadli, Prabowo selalu memikirkan kesejahteraan dan kebaikan rakyat yang mesti cepat terealisasi.
“Sy jd salah seorang saksi perjalanan itu sejak sy kenal beliau lebih dr 30 tahun. Yg dipikirkannya hanya kesejahteraan n kebaikan bagi rakyat, n harus cepat terealisasi,” lanjut cuitan Fadli.
Maka itu, ia menilai RI saat ini beruntung memiliki kepemimpinan yang kuat di figur Prabowo. Fadli bilang kepemimpinan yang kuat bukan berarti dengan militerisme apalagi diktator.
“Kadang harus memotong jalan panjang birokrasi. Beruntung kita punya kepemimpinan yg kuat di saat dunia sdg bergejolak. Strong leadership bukan berarti militerisme apalagi dictatorship,” kata Fadli.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan adanya kritik terkait isu bahwa pemerintahannya hendak menghidupkan militerisme. Dia pun meminta pakar untuk mengkaji kepemimpinannya. Prabowo ingin menyikapi kritik itu seobjektif mungkin.
“Kritik, koreksi adalah menyelamatkan. Jadi, saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak ‘Prabowo mau hidupkan lagi militerisme’. Saya koreksi lagi, apa benar? Saya panggil ahli hukum untuk mengkaji mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter,” kata Prabowo di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5/1/2026).

