Konflik Kamboja-Thailand Memanas, Warga Sipil jadi Korban-Ribuan Sekolah Tutup

38 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Konflik bersenjata antara Kamboja dan Thailand masih terus terjadi yang menyebabkan puluhan orang tewas dan ratusan ribu warga mengungsi. Dampak buruknya dari eskalasi memanas dua negara ASEAN itu memaksa ribuan sekolah tutup sementara.

Kementerian Pendidikan Kamboja menyampaikan konflik bersenjata di sepanjang perbatasan sudah memaksa penutupan 1.039 sekolah di enam provinsi. Dari laporan Anadolu yang mengutip media lokal setempat Fresh News, penutupan 1.039 sekolah itu membuat kegiatan belajar mengajar bagi 9.797 guru dan 242.881 siswa terhambat.

- Advertisement -

Dari laporan Kementerian Dalam Negeri Kamboja, ada dua warga sipil kembali tewas. Dengan demikian, jumlah korban sipil di negara itu mencapai 15 orang dengan 73 lainnya mengalami luka-luka.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Kamboja, bahwa Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk melakukan serangan udara di wilayah Kamboja.

- Advertisement -

Adapun Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura mengatakan Bangkok sudah mengajukan permohonan resmi kepada Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. pengajuan permohonan itu setelah sembilan warga sipil Thailand tewas dan lebih dari 600 sekolah serta rumah sakit ditutup.

Dari ulasan Anadolu, Angkatan Udara Thailand melancarkan serangan F-16 yang menyasar militer Kamboja. Pun, pertempuran sengit masih terus berlangsung di wilayah perbatasan.

Konflik Kamboja vs Thailand menarik perhatian China. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun prihatin dengan kondisi kedua negara ASEAN yang saling menyerang itu.

Menurut dia, Beijing masih memantau perkembangan situasi dengan saksama.

“Kami sangat berduka atas jatuhnya korban di kedua pihak dan menyampaikan simpati mendalam. Kamboja dan Thailand adalah negara bertetangga dan akan selalu demikian. Persahabatan dan hubungan bertetangga yang baik adalah hal yang sangat berharga,” kata Guo dalam konferensi pers di Beijing.

Guo menekankan prioritas utama saat ini yang bisa dilakukan dengan menghentikan pertempuran. Selain itu, melindungi warga sipil di wilayah perbatasan.

“Kami berharap kedua pihak menahan diri secara maksimal, mengambil langkah-langkah yang mendukung gencatan senjata, dan segera meredakan ketegangan demi perdamaian dan stabilitas,” ujarnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
38 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru