HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, menegaskan bahwa isu kesehatan mental pada generasi muda harus menjadi perhatian bersama.
Ia menyebut tantangan mental anak dan remaja saat ini semakin kompleks, terutama akibat derasnya perkembangan teknologi dan dampak pandemi.
Menurut Veronica, dunia internasional pun melihat kesehatan mental sebagai persoalan penting yang tidak bisa diabaikan.
Karena itu, ia menekankan perlunya kolaborasi pentaheliks yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media—agar solusi yang dihasilkan lebih kuat dan menyeluruh.
“Yang paling penting adalah apakah isu kesehatan mental ini diakui bersama. Artinya saya yakin bukan cuma nasional saja, secara internasional mereka juga melihat kondisi di zaman digital ini apalagi pasca pandemi, kesehatan mental ini menjadi sebuah isu yang penting. Implementasinya balik lagi, kita berkolaborasi untuk mencari solusi,” kata Wamen PPPA Veronica Tan dalam keterangan yang dikutip Holopis.com, Jumat (5/12/2025).
Veronica menyebut beberapa langkah konkret yang harus terus dikembangkan. Di antaranya adalah pembentukan satuan tugas (satgas) kesehatan mental di sekolah dan kampus, penyediaan ruang ramah anak dan ruang aman, serta edukasi yang mendorong pencegahan bullying dan pengurangan stigma terhadap masalah mental.
Ia juga menyoroti perubahan cara komunikasi antara orang tua, guru, dan anak-anak. Di era digital, orang tua dan pendidik dituntut lebih peka dan mau mendekati anak dengan bahasa yang sesuai dengan dunia mereka.
“Kita harus mengajak anak bicara menggunakan bahasa yang mereka pahami. Tanyakan apa yang mereka rasakan, bagaimana hubungan mereka dengan teman-teman, dan dengarkan dari sudut pandang mereka,” ujarnya.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka menjadi jembatan agar anak lebih berani mengungkapkan isi hati.
Veronica juga mengingatkan tentang tantangan digital yang semakin mengancam remaja, seperti catfishing, grooming, serta risiko dari penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia menyebut AI sebagai “pedang bermata dua”.
Di satu sisi, AI mampu membantu pembelajaran dan meningkatkan kreativitas. Namun di sisi lain, jika tidak dipahami dengan benar, teknologi ini bisa membentuk pola pikir anak hingga membuat mereka terlalu bergantung.
“Kita harus memilih, apakah menggunakan AI untuk hal positif demi kemajuan bangsa, atau justru menjadi ‘hambanya’,” tegasnya.
Veronica berharap kesadaran kolektif dan kerja sama yang kuat bisa membantu generasi muda menghadapi tekanan zaman, sekaligus memastikan mereka tumbuh sehat secara fisik, mental, dan emosional.

