HOLOPIS.COM, JAKARTA — Cara memaknai hubungan asmara di kalangan anak muda, khususnya Gen Z kini berubah drastis dibanding generasi sebelumnya. Dahulu, orang tua bisa dengan mudah menebak status hubungan seseorang. Jika seorang laki-laki dan perempuan sering terlihat bersama, biasanya diasumsikan mereka berpacaran.
Namun, bagi generasi sekarang terutama Gen Z, pertanyaan sederhana seperti “kalian pacaran?” kerap dijawab dengan istilah lain yang jauh lebih kompleks, mulai dari “cuma teman,” “HTS,” “PDKT,” “situationship,” hingga “FWB.”
Perubahan ini menimbulkan kebingungan, terutama bagi generasi yang tumbuh dengan konsep hubungan yang lebih jelas, pacaran atau tidak. Lantas, mengapa anak muda saat ini memilih berbagai label hubungan yang cenderung abu-abu?
Spektrum Baru Hubungan di Era Modern
Konsep Hubungan Tanpa Status (HTS) sebenarnya bukan hal baru. Generasi milenial dulu mengenal istilah serupa yaitu Teman Tapi Mesra (TTM). Namun kini, muncul istilah situationship, yaitu hubungan dekat tanpa kejelasan komitmen.
Situationship berada di wilayah abu-abu mirip HTS, tetapi tanpa komunikasi atau kesepakatan soal perasaan. Hubungan bisa berakhir kapan saja, tergantung situasi.
Ada pula istilah Friends with Benefits (FWB), yaitu hubungan pertemanan yang disertai kedekatan fisik tanpa komitmen romantis. Bagi sebagian orang, FWB dianggap lebih fleksibel dan tidak membatasi kebebasan pribadi.
Lebih jauh lagi, sejumlah pasangan juga memilih open relationship, yakni hubungan terbuka yang memperbolehkan relasi intim dengan orang lain di luar pasangan utama. Konsep ini menantang pandangan konvensional tentang monogami dan menuntut komunikasi yang sangat kuat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa label pacaran bukan lagi satu-satunya bentuk valid hubungan. Anak muda menciptakan spektrum baru yang lebih luas dan cair.
Tren Global: Finansial dan Ketidakpastian Hidup
Fenomena serupa muncul di Amerika Serikat. Survei oleh Utah Marriage Commission dan Brigham Young University terhadap lebih dari 5.000 responden lajang menunjukkan bahwa pernikahan bukan lagi prioritas utama. Kurang dari separuh responden mengutamakan pernikahan dibanding karier.


