HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perundingan tak langsung mengenai gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang sedang berlangsung di kota resor Sharm el-Sheikh di Mesir masih sulit dan kompleks, hal itu diungkapkan oleh sejumlah sumber Palestina pada Selasa (7/10), yang merupakan hari kedua dalam perundingan tersebut.
“Diskusi yang dimediasi oleh Mesir dan didukung oleh Amerika Serikat (AS) serta Qatar tersebut sedang berfokus pada pembentukan mekanisme teknis yang diperlukan untuk meluncurkan fase pertama dari rencana Presiden AS Donald Trump guna mengakhiri perang di Gaza,” demikian dikatakan sumber-sumber yang dekat dengan Hamas, dikutip Holopis.com, Rabu (8/10).
Pada 29 September, Trump mengumumkan rencana perdamaian 20 poin yang diterima oleh Israel. Rencana tersebut memaparkan langkah-langkah gencatan senjata bertahap, termasuk pembebasan warga Israel yang disandera, pelucutan senjata Hamas, dan penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza.
Menurut para sumber, rencana itu menetapkan bahwa Hamas harus membebaskan semua sandera dalam waktu 72 jam setelah kedua belah pihak secara terbuka menyetujui proposal tersebut. Sebagai imbalan, Israel akan membebaskan ratusan warga Palestina yang ditahan dan menghentikan operasi militer di Gaza.
Hamas pada Jumat (3/10) mengumumkan bahwa pihaknya siap membebaskan warga Israel yang mereka sandera di Jalur Gaza sesuai dengan rencana itu. Trump menyambut baik pernyataan tersebut dan menyerukan kepada Israel untuk segera menghentikan pengeboman di Gaza.
Sebagai informasi, perang Hamas-Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap situs-situs militer Israel dan permukiman di dekatnya, hingga menewaskan sekitar 1.200 orang.
Israel kemudian menanggapi dengan serangan militer berskala besar di Jalur Gaza yang padat penduduk, yang hingga saat ini telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 169.000 lainnya, menurut otoritas kesehatan Gaza.

