JAKARTA – Sobat Holopis apakah sudah pernah mendengar istilah semen retention? Praktik semen retention atau menahan ejakulasi saat berhubungan seksual kian menarik perhatian publik, terutama bagi pasangan yang ingin mengeksplorasi kenikmatan seksual secara berbeda.
Teknik ini bukan sekadar menahan keluarnya sperma, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman orgasme berulang yang disebut-sebut bisa meningkatkan kualitas hubungan intim.
Ternyata semen retention ini bukan hal baru dalam kehidupan seks. Praktik kuno ini memiliki akar kuat di budaya India, Buddha, dan Cina. Misalnya, mantak Chia, seorang guru olah nafas asal Cina, mengajarkan teknik-teknik khusus untuk mengendalikan ejakulasi dengan menekan titik perineum, sehingga energi seksual tetap terjaga.
Dalam tradisi tersebut, menahan sperma dianggap sebagai cara menyimpan energi vital pada pria, agar tubuh dan pikirannya tetap bugar kembali.
Salah satu dokter spesialis kandungan sekaligus seksolog yang konsisten memberikan edukasi melalui akun YouTube pribadinya terkait dengan seks, yakni Dr. Boyke Dian Nugraha mengatakan bahwa semen retention masih menjadi topik yang kontroversial.
“Nah dari sisi medis sendiri sebenarnya masih merupakan satu hal yang kontroversi,” katanya.
Biasanya pria yang berusia masih muda bisa cepat ereksi lagi dalam hitungan menit, katanya, tapi bagi pria yang usianya sudah berumur butuh waktu lebih lama untuk bisa ereksi.
Dr. Boyke menjelaskan, ada yang bilang menahan ejakulasi aman karena sperma yang tidak keluar akan diserap kembali oleh tubuh. Tapi, ada juga yang merasa kurang nyaman kalau terlalu lama nggak ejakulasi.
“Kalau yang masih muda sih hanya beberapa menit saja, dia sudah bisa ereksi lagi,” tambahnya.
Selain itu, ada beberapa teknik yang perlu diperhatikan juga sebelum melakukan semen retention. Kata dia, ada salah satu teknik yang dikenal dalam dunia medis yaitu metode “stop and start” ala master and Johnson. Metode ini berbeda dengan teknik tradisional seperti milik Mantak Chia.
“Tapi kamu mesti tahu teknik-teknik pernafasannya, kemudian atau bisa juga pakai teknik Master and Johnson. Misalnya ketika dia teknik stop and start tapi itu beda,” tuturnya.
Meski berbeda, keduanya sama-sama mengajarkan kontrol diri supaya orgasme dapat terjadi tanpa diikuti ejakulasi. Bagi sebagian orang, ini memberi pengalaman kenikmatan seksual yang bisa dirasakan lebih lama bahkan berulang-ulang.
Namun, semen retention ini tidak disarankan untuk semua orang. Bagi pasangan yang berencana memiliki keturunan, praktik ini kurang cocok karena ejakulasi merupakan proses penting dalam reproduksi.
Di sisi lain, semen retention dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan kesehatan dan kepuasan seksual, khususnya bagi mereka yang ingin menikmati hubungan intim dengan cara berbeda.
Jika Sobat Holopis tertarik untuk mencoba semen retention ini, disarankan untuk mempelajari teknik yang benar terlebih dahulu, dan memperhatikan respon tubuh, supaya seksualitasnya tidak hanya tentang gesekan fisik saja, tetapi juga pengalaman mendalam yang menyatukan jasmani dan rohani dengan pasangan kalian.

