JAKARTA – Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita mengakui bahwa pihaknya mengerahkan tim intelijen saat aksi demonstrasi yang berujung menjadi kericuhan.
Dimana bahkan sempat viral aparat kepolisian mengamankan seorang prajurit Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI yang dituding berencana membakar salah satu pom bensin.
Jenderal Tandyo pun menjelaskan, kehadiran intelijen adalah sebatas untuk mengumpulkan informasi kejadian yang akurat langsung dari lokasi kejadian.
“Saya sampaikan ya, namanya orang memberikan informasi itu kan kita harus masuk di dalam, ya, itu kita ikut mereka, kegiatan mereka,” kata Tandyo pada Senin (1/9).
Tandyo kemudian malah balik menyalahkan anggota kepolisian yang diduga berasal dari Brimob. Hal itu dikarenakan pihak kepolisian tersebut malah menyebarkan foto intelijen yang sedang bertugas.
“Begitu ini ditangkap kemudian keluar seperti itu, harusnya yang menangkap itu tidak menyebarkan itu, karena kan intelijen,” ketusnya.
Dalam unggahan yang viral di media sosial, terlihat foto pria yang disebut sebagai anggota Bais TNI. Dalam foto itu, pria yang disebut sebagai Anggota BAIS TNI tampak diamankan polisi.
Unggahan itu menyertakan foto kartu tanda anggota BAIS TNI yang disebut dibawa oleh pria itu. Penangkapan disebut dilakukan di daerah Pejompongan, Jakarta, pada Jumat (29/8).
Mabes TNI kemudian merespons hal itu. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen Freddy Ardianzah mengatakan narasi tersebut tidak benar.
“Kami sangat menyayangkan framing berita negatif yang beredar, menindaklanjuti hal tersebut perlu saya tegaskan bahwa tidak ada anggota TNI yang ditangkap Polri maupun menjadi provokator dalam peristiwa tersebut, itu narasi bohong dan menyesatkan,” ujar Freddy.


