JAKARTA – Ketua Komite Nasional Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK RI), Abdullah Kelrey, memberikan respons atas aksi massa yang berujung ricuh hingga melempari aparat kepolisian di sejumlah daerah, termasuk di wilatah Jakarta.
Kelrey dengan tegas menyebut aksi itu bukan bentuk perjuangan dan demonstrasi, melainkan gaya preman yang melakukan tindakan kriminal.
“Yang kalian lempar itu bukan politisi yang kalian pilih, tapi aparat yang tidak punya masalah dengan kalian. Kalau kalian diperlakukan begitu, apa kalian bisa terima?, kalian ini preman,” kara Kelrey, Senin (1/9/2025).
Menurut Kelrey, seharusnya kemarahan massa diarahkan kepada pihak yang mereka pilih saat pemilu, yaitu politisi yang dianggap telah mengkhianati aspirasi rakyat.
“Kalau mau marah, lempar saja politisi yang mengkhianati kalian. Jangan malah polisi yang jadi sasaran. Itu bukan aksi damai, tapi sudah kayak tawuran preman pasar,” tambahnya.
Kelrey menekankan, tindakan massa yang menyerang aparat tidak bisa ditoleransi, apalagi sudah ada polisi yang jadi korban dalam beberapa aksi terakhir.
“Kami tegaskan, apa yang dilakukan massa terhadap polisi tidak bisa dimaafkan,” tutup Kelrey.
Sekadar diketahui, bahwa aksi demonstrasi mendadak berubah menjadi ajang kerusuhan sejak 25 – 31 Agustus 2025. Ribuan massa dari berbagai daerah melakukan aksi anarkis dengan merusak dan membakar fasilitas umum, baik baliho, videotron, kantor DPRD maupun kantor Kepolisian.
Di Jakarta, sejumlah rumah pejabat juga diserang dan dijarah, mulai dari rumah pribadi politisi NasDem Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, kemudian kediaman Eko Patrio di Kuningan Jakarta Selatan, rumah kontrakan yang ditempati Nafa Urbach Bintaro, dan juga rumah pribadi Uya Kuya di kawasan Pondok Bambu Jakarta Timur.
Yang paling parah pula, gedung DPRD di Kota Makassar ludes, termasuk belasan unit kendaraan yang terparkir di area gedung pun juga ludes dilalap si jago merah.
Merespons hal tersebut, Presiden Prabowo Subianto pun telah memerintahkan kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo untuk menyelidiki sampai tuntas terhadap kerusuhan yang terjadi. Tangkap siapa pun bertanggung jawab atas insiden yang merugikan semua kalangan itu.
“Jadi semua aparat negara akan selidiki, siapa yang bertanggung jawab,” kata Presiden Prabowo dalam pernyataannya.

