JAKARTA – Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, pada Rabu (27/8), menyatakan bahwa evakuasi Gaza merupakan langkah yang tidak terelakkan, serta menyerukan warga untuk bergerak ke selatan sebelum dimulainya tahap perang berikutnya
“Setiap keluarga yang berpindah ke selatan akan menerima bantuan kemanusiaan maksimal yang saat ini sedang dipersiapkan,” kata Avichay, dikutip Holopis.com, Kamis (28/8)
Ia mengeklaim bahwa militer tengah mendatangkan tenda serta menyiapkan lokasi pusat distribusi bantuan, saluran air, dan berbagai fasilitas lainnya.
Adraee membantah apa yang disebutnya sebagai rumor palsu mengenai ketiadaan ruang di wilayah selatan. Ia menegaskan bahwa masih terdapat wilayah kosong yang luas di kamp-kamp Gaza tengah dan di al-Mawasi.
Serangan yang direncanakan itu, yang menurut pihak militer telah memasuki tahap awal, mencakup pengungsian massal serta penghancuran pusat perkotaan utama Gaza, wilayah yang kini dilanda kelaparan.
Kelompok hak asasi dan pejabat bantuan kemanusiaan memperingatkan bahwa pemindahan ratusan ribu pengungsi ke kamp-kamp di bagian tengah dan jalur pantai sempit al-Mawasi berisiko menimbulkan kepadatan ekstrem.
Luas wilayah tersebut hanya beberapa kilometer persegi dan tidak memiliki infrastruktur dasar, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan merebaknya penyakit dan memburuknya krisis kelaparan.
Sebagai informasi, serangan berskala besar berlanjut sepanjang malam di Khan Younis, Gaza selatan, serta di bagian utara. Pihak militer menyatakan bahwa pasukan Brigade Givati terlibat dalam operasi di Jabaliya dan di pinggiran Gaza City untuk memperluas serangan serta mencegah kelompok militan berkumpul kembali.
Perlu diketahui, Otoritas Kesehatan Gaza melaporkan, tambahan 10 warga Palestina meninggal akibat kelaparan dalam 24 jam terakhir, termasuk dua anak-anak.
Dengan demikian, jumlah korban jiwa akibat kelaparan dan malanutrisi meningkat menjadi 313 orang, dengan 119 di antaranya adalah anak-anak.
Sejak perang dimulai, serangan dan tembakan Israel telah menewaskan sedikitnya 62.819 orang serta melukai 158.629 lainnya di Gaza, menurut otoritas setempat.

