JAKARTA – Rusia kembali melakukan serangan ke Ukraina, tepatnya di wilayah Zaporizhzhia dan menewaskan 17 orang dan melukai lebih dari 80 orang lainnya. Sebanyak empat bom udara dengan pemandu telah menghatam Lembaga Pemasyarakatan Bilenkivska.
Terpantau Holopis.com dari pernyataan Layanan Eksekutif Kriminal Negara Ukraina, sebanyak 42 narapidana dibawa ke rumah sakit dengan luka-luka serius. Sementara 40 orang lainnya, termasuk satu anggota staf mengalami luka-luka.
Serangan ini pun dikecam oleh para pejabat Ukraina. Mereka menekankan bahwa penargetan infrastruktur sipil adalah sebuah kejahatan perang. Tetapi pihak Rusia belum mengomentari serangan yang dilakukan terhadap Ukraina tersebut.
Rusia Sempat Beri Harapan Ingin Diskusi Gencatan Senjata
Sebelumnya, Rusia sudah memberikan angin segar dengan mengatakan bahwa mereka setuju untuk melakukan diskusi gencatan senjata dengan Ukraina. Demikian disampaikan oleh Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Minggu 20 Juli 2025.
Dmitry menyampaikan bahwa tujuan utama Rusia tersebut sebenarnya sudah berkali-kali disampaikan oleh Vladimir Putin dalam beberapa kesempatan.
“Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk membawa penyelesaian terkait Ukraina ke konklusi damai sesegera mungkin,” kata Peskov.
Sementara itu, sejumlah pejabat Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa setiap kesepakatan damai bergantung pada penarikan pasukan Ukraina dari empat wilayah, penghentian upayanya terkait NATO, dan penghentian pengerahan pasukan NATO.
Dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Ruang Oval pada 14 Juli, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa AS akan mengirim senjata ke Ukraina melalui NATO, dan mengancam akan memberlakukan tarif yang sangat tinggi kepada Rusia jika kesepakatan gencatan senjata tidak tercapai dalam 50 hari.
Rusia kemudian menolak ultimatum yang dilontarkan oleh Trump dan menganggap ancaman itu tidak dapat diterima.

