JAKARTA – Siapa yang tak kenal dengan nama Denny Caknan. Yup, penyanyi tembang berbahasa Jawa asal Ngawi ini sudah menjadi salah satu idola musik tanah air Jawa Timur-an.
Nama panggung Denny Caknan mungkin kini mudah ditemui di deretan trending YouTube dan panggung musik besar. Namun, sedikit yang tahu bahwa sebutan “Caknan” bukan sekadar nama keren untuk industri hiburan, ia adalah warisan, panggilan sayang, dan penghormatan kepada sang ayah, Kasnan, yang dulu hanya dikenal sebagai “Cak Nan” di kampung halamannya.
“Dari kecil, saya sering dipanggil ‘anak e Cak Nan’. Jadi ya melekat terus. Teman-teman juga sudah kebiasaan manggil saya Caknan” ungkap Denny dalam salah satu wawancaranya
Nama itu kemudian dipadukan dengan “Denny”, dan sejak saat itulah lahirlah sosok Denny Caknan—penyanyi yang membawa nuansa baru dalam musik Jawa.
Dari Jalanan Ngawi ke Panggung Nasional
Nama aslinya adalah Deni Setiawan. Sebelum mengenakan mic dan menjadi idola, Denny adalah seorang pegawai harian lepas di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ngawi. Ia menyapu jalan, mengangkat sampah, dan menulis lagu di sela-sela waktu istirahat.

Tekanan hidup tidak membuatnya surut. Terlebih ia pernah mengalami masa sangat sulit karena terjerat judi online dan mengakibatkan ia banyak meninggalkan utang ratusan juta rupiah. Namun demikian, dengan segala kerbatasan dan keterpurukan itu, justru kini lahir karya-karya yang jujur dan menyentuh.
Dalam garapan musik, Deni Setiawan memulai dengan mencoba dari genre pop Indonesia pada umumnya. Namun tidak ada yang menggugah pasar. Sampai akhirnya, ia kembali ke akar, yakni menggunakan bahasa Jawa, musik yang dekat dengan kampung halamannya, dan lirik yang menggambarkan patah hati, pengharapan, serta kesetiaan.
“Kartonyono Medot Janji”: Titik Balik dari Viral
Tahun 2019 menjadi momentum emas bagi pria kelahiran 10 Desember 1993 tersebut. Lagu “Kartonyono Medot Janji” yang ia unggah di YouTube secara tiba-tiba meledak. Dalam hitungan hari, jutaan penonton mengalir.
Suara lirihnya dipadukan dengan irama koplo ringan menjadi magnet baru, terutama bagi generasi muda yang merindukan musik lokal dengan sentuhan kekinian.
Dan sejak saat itu, satu per satu karya Denny merajai tren. Antara lain ; “Los Dol”, “Kalih Welasku”, “Helleh”, hingga “Widodari”. Ia disebut-sebut sebagai penerus semangat mendiang Didi Kempot, namun dengan warna dan gaya yang lebih muda dan digital-friendly.

Denny Caknan bukan hanya bernyanyi, ia bercerita. Lagu-lagunya menggambarkan dinamika percintaan dan kehidupan sehari-hari orang Jawa, dengan bahasa yang tak dibuat-buat. Inilah yang membuatnya mudah diterima lintas generasi.
“Musik saya ya tentang kita-kita ini,” ucapnya dalam salah satu video dokumenter. “Tentang cinta yang nggak kesampaian, tentang orang tua, tentang rindu.”
Mandiri dan Membuka Jalan untuk Musisi Lain
Kini, Denny tak hanya menjadi penyanyi, tapi juga produser dan pemilik label sendiri: DC Musik. Ia membuka pintu bagi musisi-musisi muda lain yang ingin berkarya dalam jalur musik Jawa modern, tanpa harus bergantung pada label besar. Walaupun sejumlah musisi lokal sudah punya pasar sendiri, namun berkat digandeng Denny Caknan, justru mereka semakin berkibar. Mulai dari Gilga Sahid, Happy Asmara, maupun Ndarboy Genk.
Meski telah menapaki kesuksesan, Denny tetap membumi. Di balik panggung megah dan jutaan penonton, ia masih “Caknan”—anak dari Cak Nan, pria sederhana dari Ngawi, yang suaranya kini bergema hingga ke seluruh penjuru negeri.
Kini ia telah memiliki keluarga kecil. Berkat pernikahannya dengan kekasih hatinya, Bella Bonita Rafnortfic Agassy pada Jumat, 7 Juli 2023, kini keduanya sudah dikaruniai putri kecil yang lucu bernama Sabil Maratungga Cundamani. Bocah imut tersebut biasa disapa Cunda.



