JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI Adian Napitupulu, melontarkan kritik pedas terhadap skema potongan tarif ojek online (ojol) dalam rapat kerja bersama Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Senin (30/6).
Adian menyebut bahwa promo-promo yang ditawarkan oleh perusahaan aplikasi ojol sebenarnya hanya “kemasan manis” dari praktik potongan tidak adil yang merugikan pengemudi. Dalam forum resmi tersebut, ia memutar video bukti transaksi senilai Rp19.200, namun pengemudi hanya menerima Rp5.000.
“Saya bayar Rp19.200, driver cuma dapat Rp5.000. Itu kejam banget!,” tegas Adian seperti dikutip Holopis.com dari Youtube DPR RI.
Politisi PDI Perjuangan ini menyoroti adanya potongan lebih dari 20%, yang menurutnya tidak manusiawi. Ia menyebut bahwa promo tersebut hanyalah kedok untuk menutupi praktik yang tidak memiliki dasar hukum.
“Promo itu bohong. Mereka ambil dari angka-angka liar yang tidak punya dasar hukum. Mereka mengklaim membantu konsumen, tapi yang dirugikan mitra ojol,” ujarnya.
Adian pun meminta Kementerian Perhubungan agar tidak diam terhadap eksploitasi digital yang terjadi. Ia menekankan pentingnya peran negara untuk membela rakyat kecil, bukan justru membiarkan korporasi digital meraup untung besar tanpa regulasi ketat.
“Tolong Pak Wamen. Ini bukan proyek. Ini tentang 20 juta jiwa rakyat kecil. Kita harus lawan,” serunya.
Adian juga mengingatkan bahwa driver ojol adalah bagian dari tulang punggung ekonomi digital Indonesia, namun mereka kerap tak mendapatkan keadilan dalam sistem pembagian tarif.
Pernyataan Adian memicu dukungan luas dari masyarakat yang selama ini merasakan ketimpangan dalam sistem transportasi berbasis aplikasi.
Kini, publik menantikan langkah konkret pemerintah dalam mengatur skema pembagian tarif ojol agar lebih transparan dan adil, serta memastikan platform digital tidak hanya menguntungkan segelintir pihak.

