JAKARTA – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu 22 Juni 2025 mengaku bahwa Israel hampir mencapai tujuannya setelah menghancurkan fasilitas nuklir dan program rudal Iran.
Dalam sebuah konferensi pers yang direkam sebelumnya, Netanyahu mengungkapkan bahwa Israel sedang melacak 400 kilogram uranium yang diperkaya 60 persen milik Iran.
“Israel memiliki informasi intelijen yang menarik mengenai keberadaannya,” demikian bunyi klaim Netanyahu, dikutip Holopis.com, Senin (23/6/2025).
Namun ia kemudian menolak untuk menjelaskan lebih lanjut. Netanyahu mengesampingkan perang atrisi tetapi mengatakan operasi tidak akan berhenti sampai semua tujuan tercapai.
Sementara itu Iran sudah mengonfirmasi serangan tersebut, namun mengatakan bahwa serangan itu tidak membahayakan upaya nuklirnya karena situs-situs tersebut telah dievakuasi dan material-materialnya telah dipindahkan.
Tidak ada jejak radioaktif yang terdeteksi di lingkungan Iran atau negara-negara Teluk Arab lainnya setelah serangan militer AS, menurut Komisi Regulasi Nuklir dan Radiologi Arab Saudi.
Ikut Campur Amerika Serikat
Di sisi lain, negeri Paman Sam juga ikut campur dalam pertikaian ini. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (21/6) mengumumkan bahwa AS berhasil menyerang tiga fasilitas nuklir Iran di Esfahan, Fordow, dan Natanz.
Sebuah tindakan yang banjir kritikan, yang menilai bahwa ini hanya kan melanjutkan siklus balas dendam, dan bisa memperparah eskalasi yang tak terbatas.
Sekedar mengingatkan kembali, Israel awalnya melakukan serangan kepada Iran dengan alasan membal diri dan merasa terancam dengan nuklir yang dimiliki Iran. Sebagai balasan, Iran pun menyerang Israel, dan terjadilah saling serang. Memperkeruh keadan, Amerika Serikat pun melakukan serangan dan mengebom tiga fasilitas nuklir di Iran.

