JAKARTA – Ketika konfrontasi militer antara Israel dan Iran meningkat, penduduk Jalur Gaza menyaksikan dengan cemas, karena khawatir ketegangan baru ini dapat semakin memperburuk situasi kemanusiaan mereka yang sudah sangat buruk dan semakin memperparah penderitaan mereka yang sudah berlangsung lama dan jauh dari sorotan dunia.
Di Gaza, Otoritas Palestina, Ibrahim al-Faryani yang kini berusia 40-an, mengikuti dengan saksama laporan-laporan tentang serangan lintas perbatasan.
“Sekarang, perhatian global telah bergeser ke Teheran dan Tel Aviv, dan Gaza telah hilang dari radar media. Hilangnya fokus internasional ini memungkinkan Israel untuk meningkatkan pelanggaran di sini tanpa pengawasan atau pertanggungjawaban,” kata Ibrahim, dikutip Holopis.com, Kamis (19/6).
Sejak perseteruan pecah antara Israel dan Iran pada 13 Juni, warga melaporkan penurunan tajam dalam bantuan kemanusiaan yang mencapai Gaza, dengan alasan penutupan perlintasan perbatasan yang terus berlanjut sebagai hambatan utama.
Di tengah kecemasan yang meluas, beberapa pihak memandang konflik yang lebih besar ini sebagai peluang yang potensial bagi Gaza untuk mendapatkan perhatian internasional, dan kemungkinan untuk diikutsertakan dalam perjanjian regional di masa depan.
“Mungkin perang ini akan membentuk kembali kawasan ini,” kata seorang warga Gaza, Salem Subaih.
“Jika ada kesepakatan internasional besar yang terjadi, kami berharap Gaza akan diikutsertakan,” lanjutnya.
Seorang pejabat Hamas yang tidak menyebutkan namanya mengatakan bahwa konfrontasi tersebut menggarisbawahi sifat keamanan dan politik regional yang saling berhubungan.
“Gaza tidak terisolasi dari sekitarnya. Kami memantau perkembangan dan mengelola situasi dengan hati-hati untuk menghindari eskalasi yang tidak diperlukan,” ujar pejabat tersebut,
Ia pun mengatakan bahwa pihaknya mengambil pendekatan yang rasional, yang berfokus untuk melindungi rakyat Palestina.


