JAKARTA – Penembakan massal mematikan di sekolah kali ini terjadi di kota Graz, Austria. Sebanyak 11 orang meninggal dunia, termasuk penembak sendiri. Kejadian ini pun dinilai sebagai penembakan massal paling mematikan sepanjang sejarah Austria.
Akibatnya, negara Austria pun mengumumkan tiga hari berkabung kepada masyarakatnya. Presiden Austria, Alexander Van der Bellen mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Kengerian ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, apa yang terjadi hari ini di Graz, benar-benar mengenai negara kita di hati,” kata Alexander, dikutip Holopis.com, Kamis (12/6).
Ia pun sangat sedih mengingat bahwa para korban hanyalah anak-anak yang masih memiliki masa depan yang cerah, termasuk seorang guru yang menemani mereka dalam perjalanan menuju masa depan tersebut.
“Tidak ada yang dapat menyembuhkan kesedihan dari para orang tua, kakek-nenek, saudara kandung, dan teman-teman yang menjadi korban meninggal dunia.
Kronologi Penembakan Sekolah di Graz Austria
Kejadian mematikan tersebut menyisakan trauma kepada mereka yang menjadi korban selamat. Penembakan terjadi di Sekolah Menengah Dreierschützengasse, di barat laut Graz, dekat stasiun kereta api utama, sekitar pukul 10:00 pagi waktu setempat.
Seorang guru agama seklolah tersebut, Paul Nitsche, mengatakan bahwa ia sedang berada di kelas ketika tiba-tiba mendengar suara ledakan dan diikuti suara peluru yang mengenai lantai koridor. Guru tersebut pun langsung memutuskan untuk melarikan diri.
“Ada sesuatu yang tersentak dalam diriku, aku melompat, dan memutuskan untuk lari,” kata Guru bernama Paul Nitsche.
Ia bahkan sempat melihat seorang murid tergeletak, dan melihat sekilas si penembak, yang pada akhirnya menembak dirinya sendiri setelah membunuh beberapa orang.
Sebagai informasi, penembak tersebut diketahui merupakan warga negara Austria yang dikatakan polisi bertindak sendirian. Penembak merupakan mantan siswa Dreierschützengasse yang tidak lulus dari sekolah tersebut.

