JAKARTA – Lee Jae-myung dikenal sebagai sosok yang meniti jalan panjang dari latar belakang sederhana hingga menduduki jabatan tertinggi di Korea Selatan. Sebagai seorang pengacara hak asasi manusia dan politisi yang gigih, perjalanan hidup dan karier Lee mencerminkan ketabahan dan komitmen terhadap keadilan sosial.
Pada tahun 2025, ia resmi menjadi Presiden Korea Selatan ke-14 setelah memenangkan pemilu yang penuh tantangan dan sorotan.
Biodata Singkat
- Nama: Lee Jae-myung
- Tanggal Lahir: 8 Desember 1963
- Tempat Lahir: Andong, Korea Selatan
- Pekerjaan: Politikus, Pengacara
- Jabatan Saat Ini: Presiden Korea Selatan (sejak 2025)
Jabatan Sebelumnya :
• Anggota Majelis Nasional untuk Gyeyang B (2022–2025)
• Gubernur Provinsi Gyeonggi (2018–2021)
• Wali Kota Seongnam (2010–2018)
• Ketua Partai Demokrat Korea (2022–2025)
Latar Belakang Kehidupan
Lee Jae-myung lahir di Andong dalam keluarga miskin dan bekerja di pabrik sejak usia muda. Akibat kecelakaan kerja, ia mengalami cedera yang menyebabkan disabilitas permanen. Namun, kondisi tersebut tidak mematahkan semangatnya. Lee kemudian menyelesaikan ujian penyetaraan setingkat SMP dan SMA, lalu melanjutkan studi hukum di Universitas Chung-Ang, lulus pada tahun 1986.
Sebagai pengacara, Lee dikenal aktif dalam isu-isu hak asasi manusia dan buruh. Ia tergabung dalam organisasi Minbyun dan terlibat dalam advokasi pendirian rumah sakit baru di Seongnam, yang kelak menjadi wilayah kepemimpinannya sebagai wali kota.
Perjalanan Karier Politik
Lee memasuki dunia politik pada tahun 2005, meskipun pada awalnya sempat mengalami beberapa kekalahan dalam pemilihan umum. Ia baru berhasil menembus jabatan publik pada tahun 2010 ketika terpilih sebagai Wali Kota Seongnam. Ia kembali dipercaya untuk periode kedua pada 2014. Kepemimpinannya dikenal dengan kebijakan sosial progresif dan transparansi anggaran.
Pada tahun 2017, Lee mencoba mencalonkan diri sebagai Presiden namun kalah dalam konvensi Partai Demokrat dari Moon Jae-in. Ia lalu mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wali kota untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Gyeonggi dan terpilih pada 2018. Kepemimpinannya di provinsi terbesar di Korea Selatan itu berlangsung hingga 2021.
Lee kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu 2022. Meski berhasil meraih nominasi partainya, ia kalah tipis dari Yoon Suk Yeol dari Partai Kekuatan Rakyat (PPP).
Masa Krisis dan Kepemimpinan Nasional
Karier politik Lee sempat terguncang pada 2024. Di awal tahun, ia menjadi korban percobaan pembunuhan. Di bulan November tahun yang sama, ia divonis melanggar Undang-Undang Pemilu karena pernyataan tidak benar terkait hubungan dengan Kim Moon-ki dalam kampanye sebelumnya.
Namun, reputasinya kembali menanjak ketika krisis darurat militer meletus di Korea Selatan pada 2024. Lee mendapatkan perhatian dunia setelah memanjat pagar Gedung Majelis Nasional dan menyiarkan langsung kejadian tersebut. Aksi simbolik ini memperlihatkan keberaniannya dan memperkuat posisinya sebagai pemimpin oposisi yang tangguh.
Ia kemudian memainkan peran utama dalam proses pemakzulan Presiden Yoon. Setelah Mahkamah Konstitusi memberhentikan Yoon dari jabatannya, Lee mencalonkan diri untuk ketiga kalinya dalam pemilu presiden tahun 2025. Ia meraih nominasi dari Partai Demokrat dan berhasil mengalahkan kandidat PPP, Kim Moon-soo.

