Kenali Pendarahan Otak, Komplikasi Suami Najwa Shihab Sebelum Wafat

0 Shares

JAKARTA – Suami jurnalis dan presenter senior Najwa Shihab, Ibrahim Sjarief Assegaf meninggal dunia setelah mengalami stroke dan pendarahan di otak. Hal ini pun membuat banyak masyarakat Indonesia jadi ingin mengetahui lebih dalam terkait pendarahan otak yang bisa bersifat fatal.

Pendarahan otak merupakan kondisi medis yang sangat serius dan bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa gejala awal dari pendarahan otak bisa menyerupai kondisi lain yang lebih ringan, seperti migrain atau kelelahan.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Oleh karena itu, penting bagi Sobat Holopis untuk mengetahui tanda-tanda dan penyebab pendarahan otak agar dapat bertindak cepat dan tepat.

Apa Itu Pendarahan Otak?

Pendarahan otak atau dalam istilah medis disebut perdarahan intrakranial adalah kondisi ketika terjadi pecahnya pembuluh darah di dalam otak, yang menyebabkan darah bocor ke jaringan otak. Pendarahan ini bisa terjadi secara spontan (misalnya akibat tekanan darah tinggi) atau karena trauma (seperti benturan keras di kepala). Ketika darah menumpuk, tekanan di dalam tengkorak meningkat dan dapat merusak sel-sel otak.

- Advertisement -

Jenis-jenis pendarahan otak meliputi :

  • Perdarahan intraserebral : darah masuk langsung ke jaringan otak.
  • Perdarahan subarachnoid : darah mengisi ruang antara otak dan jaringan tipis yang menyelimutinya.
  • Hematoma subdural dan epidural : biasanya terkait dengan cedera kepala.

Gejala Pendarahan Otak yang Harus Diwaspadai

Gejala pendarahan otak dapat muncul secara mendadak dan memburuk dengan cepat. Beberapa tanda umum yang patut diwaspadai meliputi:

  • Sakit kepala parah dan mendadak yang berbeda dari sakit kepala biasa
  • Mual dan muntah tanpa sebab yang jelas
  • Kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh (wajah, lengan, atau kaki)
  • Kesulitan bicara atau bicara yang tidak jelas
  • Penglihatan ganda atau buram
  • Kehilangan keseimbangan atau koordinasi
  • Penurunan kesadaran hingga pingsan
  • Kejang yang terjadi tiba-tiba, bahkan jika sebelumnya tidak memiliki riwayat epilepsi

Jika Sobat Holopis atau orang di sekitar mengalami gejala seperti ini, segera hubungi layanan medis darurat. Setiap menit sangat berharga untuk menyelamatkan fungsi otak dan nyawa.

Penyebab dan Faktor Risiko

Ada berbagai penyebab yang bisa meningkatkan risiko pendarahan otak, antara lain:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) : kondisi ini melemahkan dinding pembuluh darah dan membuatnya mudah pecah.
  • Cedera kepala : terutama akibat kecelakaan lalu lintas atau terjatuh.
  • Kelainan pembuluh darah otak, seperti aneurisma atau malformasi arteri-vena.
  • Gangguan pembekuan darah atau penggunaan obat pengencer darah.
  • Tumor otak yang berdarah.
  • Penyalahgunaan alkohol dan narkoba, terutama kokain.

Beberapa faktor gaya hidup juga dapat memperburuk risiko, seperti merokok, kurang olahraga, dan diet tinggi garam yang menyebabkan tekanan darah tinggi.

Intinya Sobat Holopis, pendarahan otak bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Mengenali gejala awal dan mengetahui faktor risikonya dapat membantu Sobat Holopis mengambil tindakan yang cepat dan tepat.

Jika terjadi tanda-tanda mencurigakan, jangan menunggu atau mengira itu hanya kelelahan biasa. Segera cari pertolongan medis agar peluang pemulihan lebih besar dan komplikasi bisa dicegah. Tetap jaga kesehatan otak dengan gaya hidup sehat dan waspada terhadap perubahan pada tubuh.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis