JAKARTA – Masih belum ada bantuan yang dikirim ke warga sipil yang kelaparan di Gaza, dimana mereka terancam dilanda kelaparan, setelah rute tunggal yang ditetapkan oleh militer Israel dianggap tidak aman. Hal itu diungkapkan langsung oleh juru bicara (jubir) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (21/5).
Stephane Dujarric, selaku kepala jubir Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, menyampaikan bahwa sejauh pekan ini, sekitar 100 truk bermuatan bantuan telah diizinkan oleh Israel untuk memasuki perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem, tetapi distribusi bantuan ke warga Gaza masih nol.
“Muatan tersebut diturunkan dari truk-truk di area transit pos pemeriksaan untuk diinspeksi. Beberapa pasokan bantuan dipindahkan ke truk lain yang dikirim ke perlintasan tersebut dari dalam Gaza untuk melakukan pengiriman ke gudang-gudang dan pos-pos pemeriksaan lainnya. Namun, tak satu pun dari pasokan bantuan tersebut meninggalkan area transit itu,” kata Stephane, dikutip Holopis.com, Kamis (22/5).
Dujarric berkata rute tunggal yang disetujui oleh militer Israel bagi truk-truk yang menuju lokasi tujuan dianggap tidak aman. Jalur padat yang dipetakan tersebut rawan penjarahan, yang dianggap sebagai kemungkinan penyebab yang nyata karena tidak ada bantuan yang diizinkan masuk selama lebih dari 11 pekan dan masyarakat sangat membutuhkan makanan. Rute-rute itu juga harus melewati area operasi militer Israel.
Dengan 80 persen wilayah Gaza terdampak perintah pengungsian atau berada di dalam zona militer Israel, lembaga kemanusiaan harus mengoordinasikan pergerakan mereka dengan otoritas Israel.
Dujarric menuturkan bahwa PBB dan mitra-mitranya di Gaza telah berdiskusi dengan para pemimpin masyarakat di Gaza terkait bagaimana memitigasi risiko penjarahan dan memastikan pasokan bantuan yang memasuki Gaza sampai ke tangan warga yang membutuhkan. Hingga saat ini, terbatasnya jumlah pasokan bantuan yang memasuki perlintasan belum mencukupi kebutuhan warga Gaza yang begitu luas, dan masih banyak lagi bantuan harus diberikan.
Meski Dujarric mengatakan belum ada bantuan yang dikirim untuk disalurkan ke Gaza hingga Rabu pukul 06.30 waktu setempat, masih ada kemungkinan beberapa truk akan diberangkatkan di kemudian waktu jika rute yang aman telah dipastikan.
Terkait hal ini, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyampaikan bahwa otoritas Israel telah menyetujui pasokan bantuan untuk melintas masuk ke Jalur Gaza pada Senin (19/5) dan Selasa (20/5), tetapi melarang pengiriman barang-barang penting lainnya, seperti produk kebersihan atau bahan bakar.
Hal ini pun membuat dunia internasional mengecam dan mengutuk aksi Israel, termasuk Inggris, Spanyol, Kanada, dll.

