Volodymyr Zelenskyy Siap Mundur dari Kursi Presiden Ukraina, Asalkan….


Oleh : Darin Brenda Iskarina

JAKARTA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa ia siap mengundurkan diri, asalkan negaranya diterima dalam aliansi militer NATO. Ia sudah menyerukan agara negara Ukraina diberikan keanggotaan NATO sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri peran gdengan Rusia. Namun, NATO masih belum mau untuk memberikan janji tersebut.

“Jika ada perdamaian untuk Ukraina, jika Anda benar-benar membutuhkan saya untuk meninggalkan jabatan saya, saya siap. Saya dapat menukarnya dengan NATO,” sebut Zelenskyy, dikutip Holopis.com, Senin (24/2).

Ia bahkan tak tanggung-tanggung untuk mengundurkan diri secepat mungkin jika memang dibutuhkan.

Sebagai informasi, Zelenskyy belakangan ini memang kerap kali menerima kritikan pedas dari Presiden AS Donald Trump. Ia kemudian meminta untuk bertemu dengan Donald Trump sebelum bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Disebut Diktator oleh Donald Trump

Sementara itu, belum lama ini Donald Trump baru saja memberikan kritikan kepada Zelenskyy bahwa ia adalah diktator. Sebuah sebutan yang tidak membuat Zelenskyy merasa berkecil hati atau tersinggung.

Zelenskyy mengatakan, hanya diktator asli yang akan tersinggung jika dikatai diktator.

“Orang yang tersinggung dengan sebutan diktator, adalah kalau dia memang diktator,” jawab Zelenskyy.

Ia kemudian berharap ada pengertian antara dirinya, dan juga Donald Trump terkait garansi keamanan.

Belakangan ini, hubungan Amerika Serikat dan Ukraina menjadi tidak pasti sejak Donald Trump menjabat sebagai persiden. Setelah melemparkan hinaan kepada Zelenskyy, Donald Trump menuntut akses dari Ukraina sebagai kompensasi atas bantuan yang selama ini sudah diberika Amerika Serikat untuk Ukraina di bawah kepemimpinan Joe Biden.

Sementara itu, Ukraina tetap tidak mau memberikan persetujuan secara cuma-cuma. Volodymyr Zelenskyy menginginkan imbalan yaitu jaminan keamanan dari Amerika Serikat.

Sebagai informasi, saat ini perang antara Rusia dan Ukraina masih terus berlanjut. Akhir Februari 2025 memasuki tahun ketiga perang antara dua negara tersebut.

Tampilan Utama