JAKARTA – Kondisi hujan deras disertai angin kencang melanda sejumlah pemukiman warga yang ada di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang landa dua kecamatan di Kabupaten Boyolali.
“Kondisi itu sebabkan kerusakan rumah warga di beberapa lokasi,” kata Abdul Muhari dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com, Minggu (9/2).
Peristiwa angin kencang ini terjadi di Desa Sambi, Desa Jagoan dan Desa Tempursari di Kecamatan Sambi dan Desa Tawangsari yang berada di Kecamatan Teras.
Hasil kaji cepat sementara tercatat 19 KK terdampak dan untuk kerugian materiil dilaporkan 17 rumah rusak ringan, dua rumah rusak sedang dan satu fasilitas ibadah rusak ringan.
BPBD Kabupaten Boyolali beserta petugas gabungan melakukan asesmen kepada warga setempat dan membantu penanganan rumah warga yang rusak di lokasi terdampak.
Selanjutnya, angin kencang terjadi Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, Sabtu (8/2).
Kejadian yang melanda tiga kecamatan yang berada di wilayah administratif Kabupaten Magetan ini menyebabkan kerusakan ringan pada 43 unit rumah, tiga unit fasilitas umum, satu unit pertokoan rusak sedang, tiga akses jalan dan satu unit tempat wisata terdampak.
Kecamatan yang terdampak angin kencang adalah Kecamatan Barat, Kecamatan Kartoharjo dan Kecamatan Maospati.
BPBD Kabupaten Magetan bersama petugas gabungan melakukan asesemen dan pembersihan material pohon tumbang sehingga akses jalan bisa kembali digunakan masyarakat.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini cuaca tanggal 8 hingga 9 Februari 2025, adapun wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat adalah Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Jambi.
Adapun wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang antara lain Provinsi Bali, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kep. Riau, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Abdul kemudian mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk siap siaga dan waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.
“Berbagai upaya dapat dilakukan sebagai upaya mitigasi dan pencegahan, seperti memantau kondisi tanggul, pembersihan saluran air atau daerah aliras sungai, penyiapan pompa air atau tempat penampungan air serta rencana kedaruratan untuk mempersiapkan lokasi evakuasi, logistik dan peralatan penanganan bencana,” imbaunya.

