HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nara (25 tahun), pegawai swasta di Jakarta, baru saja kembali dari Jogjakarta bersama lima orang temannya. Memanfaatkan long weekend mereka melakukan perjalanan singkat ke kota budaya tersebut. Anehnya di hari Minggu sore saat sampai di rumah Nara justru terlihat bad mood. Bersikap jauh dari kata manis, enggan makan bahkan juga mengatakan kelelahan sampai sakit kepala.
Apa yang dialami Nara sebenarnya adalah hal yang biasa terjadi. Istilahnya adalah post-holiday depression atau blues alias depresi liburan. Dikutip dari Psycom, National Alliance on Mental Illness pernah menyebut 64% dari populasi masyarakat setidaknya pernah mengalami depresi. Lebih lanjut disebutkan pada sekitar 24% orang dengan penyakit mental yang terdiagnosis, ditemukan bahwa liburan membuat kondisi mereka “jauh” lebih buruk dan 40% merasakan “agak” lebih buruk.
Padahal aslinya seperti dikutip dari Healthline, liburan itu bagus untuk jiwa kita. Memberikan kesemapatan untuk menjelajah dunia, memperbaharui rasa ingin tahu kita akan hal-hal di luar rutinitas. Tak perlu liburan mewah atau lama, tapi liburan memang dibutuhkan untuk membuat tubuh dan pikiran bekerja lebih lambat dan mengisi energi lagi.
Post-holiday despression juga kadang disebut sebagai post-vacation syndrome, stres atau depresi. Sementara post-holiday blues meski gejalanya mirip seperti kecemasan, masalah suasana hati, insomnia, lesu, gampang marah, atau sulit konsentrasi, namun ada perbedaannya. Dibanding depresi yang bersifat kliniis, depresi liburan lebih singkat.
Tak banyak penelitian tentang kondisi ini. Namun para peneliti menduga merosotnya kadar adrenalin sebagai penyebab utamanya. “Hal yang sama terjadi seperti saat tingkat stres yang tinggi pada kejadian besar dalam hidup, seperti pernikahan, selesainya tengat pekerjaan, maka liburan juga bisa berdampak pada sistem biologis dan psikologis kita,”kata Dr. Eileen Kennedy-Moore, psikolog klinis dari Princeton, New Jersey.
Depresi sementara bisa terjadi saat usai kejadian besar lalu kembali ke kondisi normal sehari-hari. Otak manusia memang bisa menipu tubuh kita sendiri. “Usai liburan atau kejadian besar, otak seperti membuat ilusi membuat tubuh percaya bahwa ada hal-hal buruk bakal terjadi. Uniknya ini sebenarnya adalah kondisi yang mengindikasikan bahwa kita punya fungsi mental dan psikologi yang baik,”kata Dr. Melissa Weinberg, seorang konsultan dan peneliti masalah-masalah psikologis.
Selain kerja otak normal yang bisa menipu, kecenderungan orang untuk makan dan minum yang manis-manis saat liburan juga jadi penyebabnya. Kadar gula darah jadi meningkat, lalu turun tajam setelah liburan usai. Tubuh jadi berada dalam kondisi ketagihan kadar gula, tak heran suasana hatipun jadi terganggu.
Kondisi depresi liburan ini berlangsung bisa berbeda-beda pada tiap orang. Namun jikan kondisinya sudah sangat mengganggu aktivitas harian Anda, sangat disarankan untuk mencari bantuan ahli medis khususnya kesehatan mental.
Ada beberapa cara untuk mencegah depresi liburan ini, diantaranya:
1. Jaga kesehatan secara keseluruhan.
Cukup tidur, rutin berolah raga, dan menjaga pola makan yang sehat adalah kuncinya. Semua ini terbukti bisa mencegah depresi dan mengelola naik dan turunnya suasana hati. Jika sesekali begadang atau tidur larut, bayar kekurangan tidur Anda setelahnya. Jika terlalu banyak makan cemilan berkalori dan kadar gula tinggi, kembalikan kondisi tubuh dengan mengatur kembali diet sehat Anda usai liburan.
2. Atur dan buat jadwal yang menyenangkan.
Saat mengalami masa-masa sulit dengan emosi yang berantakan sempatkan bertemu dengan teman sebentar meski secara online untuk menjaga aktivitas harian tidak terganggu.
3. Sabar dan jangan terlalu keras pada diri sendiri.
Seperti liburan yang tak berlangsung selamanya, depresi liburan juga tak selamanya. Jadi jangan merasa bersalah telah menggunakan waktu dan uang untuk berlibur, saat ternyata harus kembali menghadapi berbagai tugas dan pekerjaan kembali. Ambil dan simpan saja kenangannya, lalu jika perlu, mulai buat perencanaan liburan baru dengan teman-teman untuk masa mendatang.
4. Rapikan rumah dan tuntaskan pekerjaan sebelum liburan.
Intinya agar ketika Anda pulang dari liburan Anda tak dirisaukan oleh kondisi rumah yang berantakan yang membuat Anda tak bisa segera beristirahat. Minimal rapikan tempat tidur, bersihkan kamar mandi, rapikan cucian dan siapkan bahan makanan di kulkas yang bisa segera diolah sepulang liburan.
5. Sisakan satu hari.
Ada baiknya Anda menyisakan satu hari sebagai jeda antara waktu liburan dengan waktu untuk kembali bekerja sebagai masa kembali beradaptasi ke kehidupan normal.
6. Buat jurnal liburan.
Manfaat kan waktu jeda antara liburan dan hari kerja untuk merapikan dokumentasi masa liburan. Selain agar tersimpan rapi, kegiatan ini juga bisa meningkatkan kembali semangat untuk mereka-reka akan liburan kemana lagi setelah ini. (*****)

