Di kampus tersebut, ia menyelesaikan pendidikan magister pada 2003.
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2006, Irwan meraih gelar doktor.
Latar belakang akademiknya kemudian berkembang pada bidang kebumian, khususnya yang berkaitan dengan sistem spasial dan kadaster.
Nama Irwan juga beberapa kali muncul dalam pembahasan mengenai kebencanaan dan kegempaan.
Pada Agustus 2026, misalnya, ia memberikan pandangan terkait gempa bumi magnitudo 7,7 di wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Saat itu, Irwan mengingatkan adanya kemiripan lokasi dan mekanisme gempa tersebut dengan gempa Flores 1992.
Ia menjelaskan bahwa sumber gempa berada di kawasan Flores Back-Arc Thrust yang memiliki sejarah aktivitas kegempaan signifikan.
Irwan juga mengingatkan potensi gempa susulan serta pentingnya pemeriksaan bangunan strategis seperti sekolah, fasilitas kesehatan dan gedung pemerintahan.
Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa kiprah Irwan tidak hanya berada di ruang kelas.
Ia juga aktif memberikan pandangan berbasis keilmuan terhadap persoalan kebumian dan kebencanaan.
Selama berkarier di dunia akademik, Irwan juga memperoleh sejumlah penghargaan.
Pada 2023, ia menerima penghargaan Young Inspirational Geospatial dalam acara HxGN LIVE Indonesia.
Masih pada tahun yang sama, ITB memberikan penghargaan Pengabdian 25 Tahun kepada Irwan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya selama seperempat abad di kampus tersebut.



