Isir mengatakan kritik dan masukan dari masyarakat juga menjadi bagian penting dalam semangat tersebut.
Alih-alih dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari, masukan publik disebut perlu dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan dan pelaksanaan tugas kepolisian.
“Karena itu, kedekatan dengan masyarakat harus menjadi bagian dari budaya kerja seluruh anggota Polri,” kata Isir.
Pesan yang dibawa Polri cukup jelas, Polisi diharapkan tidak menciptakan jarak dengan masyarakat.
Isir menjelaskan, makna tagline tersebut mencakup kehadiran polisi untuk mendengar, bekerja bersama, dan memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat.
Dengan pendekatan itu, hubungan polisi dengan masyarakat tidak hanya dibangun ketika ada laporan, gangguan keamanan, atau persoalan hukum.
Polri ingin kehadiran personel juga terasa dalam pelayanan sehari-hari.
Implementasinya mencakup pelayanan publik, penegakan hukum yang berkeadilan, hingga respons terhadap berbagai persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Polri akan menggunakan “Polisi Bersama Masyarakat” sebagai identitas komunikasi yang disosialisasikan kepada seluruh jajaran.
Seluruh anggota diharapkan memahami makna tagline tersebut dan menerapkannya dalam pelaksanaan tugas.
Isir kembali menegaskan bahwa semangat tersebut berarti polisi harus hadir bersama masyarakat, bukan bekerja dengan jarak yang memisahkan keduanya.
“Polisi bersama masyarakat berarti Polri tidak berjarak dengan masyarakat, tetapi hadir, mendengar, bekerja bersama, dan memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Dengan demikian, era Kapolri Suyudi kini membawa satu pesan komunikasi yang ingin ditanamkan ke seluruh jajaran yaitu polisi harus semakin dekat dengan masyarakat.



