Internasional
Konflik AS-Israel vs Iran Bisa Berakhir di Islamabad Pakistan? Ini Faktanya
HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah panasnya konflik Iran melawan Amerika Serikat (AS-Israel, Pakistan justru bergerak di jalur berbeda. Bukan sebagai pihak yang terlibat langsung, Islamabad kini memainkan peran sebagai penyeimbang sebagai mediator konflik.
Langkah ini terlihat dari kesiapan Pakistan menjadi tuan rumah pembicaraan damai. Negara Asia Selatan itu punya posisi yang unik: dekat dengan Washington, namun tetap memiliki hubungan panjang dengan Teheran.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif secara terbuka menyatakan kesiapan negaranya memfasilitasi dialog antara AS dan Iran.
“Dengan persetujuan dari AS dan Iran, Pakistan siap dan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah guna memfasilitasi pembicaraan yang bermakna dan konklusif untuk penyelesaian komprehensif,” kata Sharif dikutip dari Arab News pada Rabu, (25/3/2026).
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menunda ancaman serangan terhadap Iran dan menyebut telah ada pembicaraan yang “produktif”.
Bagi Pakistan, ini bukan sekadar diplomasi biasa. Tapi, melainkan peluang langka untuk kembali ke panggung global sebagai mediator utama konflik besar.
Jika pembicaraan benar-benar terjadi, posisi Pakistan bisa melonjak signifikan. Bahkan, posisi Pakistan dibandingkan peran historisnya saat membantu membuka jalur diplomasi rahasia antara AS dan China pada era Richard Nixon tahun 1972.
Analis menilai momentum ini bisa mengangkat kembali citra Pakistan dari negara yang selama ini kerap dilihat problematik, menjadi aktor kunci dalam stabilitas kawasan.
“Pakistan menjadi tuan rumah pembicaraan AS-Iran merupakan peningkatan besar dalam posisi strategis Islamabad,” kata Kamran Bokhari.
“Setelah puluhan tahun menjadi negara yang bermasalah, Pakistan tampaknya muncul kembali sebagai sekutu utama Amerika di Asia Barat,” jelas Bokhari.
Di balik layar, Pakistan telah melakukan pendekatan intensif ke Washington. Panglima militer Asim Munir disebut membangun hubungan langsung dengan Trump untuk mengikis ketidakpercayaan lama.
Pakistan bahkan terlibat dalam berbagai kerja sama strategis, mulai dari ekonomi hingga proyek bisnis yang terkait dengan lingkaran Trump.
Langkah ini menunjukkan bahwa Islamabad tidak hanya bermain di jalur diplomasi formal. Tapi, juga memanfaatkan koneksi personal dan ekonomi untuk memperkuat posisinya.
Salah satu kekuatan utama Pakistan adalah kemampuannya menjaga komunikasi dengan kedua pihak yang bertikai.
Saat banyak negara kehilangan akses ke Teheran maupun Washington, Pakistan justru tetap aktif mengirimkan pesan di antara keduanya. Setidaknya, menurut sumber resmi, Islamabad telah menyampaikan lebih dari setengah lusin pesan antara AS dan Iran sejak konflik dimulai.
Di balik ambisi global, ada kepentingan domestik yang mendesak. Konflik Iran bukan sekadar isu luar negeri bagi Pakistan.
Pakistan memiliki populasi Syiah besar dan berbatasan langsung dengan Iran, terutama di wilayah sensitif Balochistan.
Eskalasi konflik berpotensi merembet ke dalam negeri, memperburuk ketegangan keamanan dan memicu gangguan pasokan energi.
Bahkan, protes besar sempat terjadi setelah serangan awal konflik yang menewaskan Ali Khamenei.
Pakistan dinilai memiliki kredibilitas sebagai mediator karena posisinya yang relatif seimbang.
“Mempertahankan hubungan yang baik dengan Washington dan Teheran, sementara sejarah hubungan yang tegang dengan masing-masing negara memberikan jarak yang cukup untuk dipandang sebagai perantara yang kredibel,” kata Adam Weinstein.
Selain itu, Pakistan tidak menampung pangkalan militer AS seperti beberapa negara Teluk, sehingga dinilai lebih netral di mata Iran.
Secara geopolitik, Pakistan berada di posisi yang rumit namun strategis. Di satu sisi, ia adalah tetangga Iran dengan hubungan yang relatif stabil. Di sisi lain, Islamabad juga memiliki hubungan erat dengan Arab Saudi dan tetap dipercaya oleh Washington.
Kombinasi ini membuat Pakistan menjadi salah satu sedikit negara yang bisa diterima oleh semua pihak—sebuah keunggulan penting dalam proses mediasi.
ARTIKEL TERKAIT
- Donald Trump : Tidak Ada Tenggat Waktu untuk Akhiri Perang AS-Israel dengan Iran
- Utusan China Untuk PBB Tuntut Gencatan Senjata di Gaza
- Anwar Ibrahim : Iran Siap Damai Asal Israel Setop Serang Palestina
- Iran Janji Terus Gempur Tel Aviv, Rakyat Israel Bakal Dihantui Sirene Tanpa Henti!
- Pengamat Politik: Pembukaan Hubungan Diplomatik dengan Israel Langgar Konstitusi