Ragam
Dulu Komoditas Kolonial, Kini Jadi Gaya Hidup, Begini Perjalanan Kopi di Indonesia
HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kopi di Indonesia memiliki perjalanan yang panjang. Tanaman yang awalnya dikembangkan sebagai komoditas perdagangan pada masa kolonial kini berkembang menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Perubahannya dapat dilihat dari cara kopi diproduksi, dijual hingga dinikmati.
Setiap 1 Oktober, dunia memperingati Hari Kopi Internasional. Momen tersebut turut menjadi gambaran bagaimana kopi terus mengalami perubahan. Di Indonesia, kopi kini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari kopi instan, kopi seduh di warung kopi, kopi susu, specialty coffee, coffee shop hingga kopi keliling.
Perubahan tersebut juga terlihat dari pertumbuhan konsumsi. Kementerian Perindustrian mencatat konsumsi kopi Indonesia tumbuh 50,02 persen dalam 10 tahun terakhir berdasarkan data International Coffee Organization (ICO). Pada periode yang sama, jumlah kafe di Indonesia tumbuh rata-rata 16 persen per tahun berdasarkan data Euromonitor.
Dari Komoditas Kolonial ke Warung Kopi
Kopi mulai masuk ke Indonesia pada masa kolonial. Berdasarkan catatan Kementerian Pariwisata, tanaman kopi pertama kali diuji coba di Batavia pada 1696. Percobaan tersebut gagal setelah tanaman terdampak banjir dan gempa bumi.
Pemerintah kolonial kemudian kembali mendatangkan bibit kopi dari Malabar, India pada 1699. Bibit tersebut ditanam di kawasan Cianjur sebelum menyebar ke berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa.
Budidaya kopi kemudian berkembang menjadi bagian dari kegiatan perkebunan dan perdagangan. Pada 1717, kopi dari Indonesia mulai diekspor ke Eropa dengan jumlah sekitar satu ton. Perkembangan perkebunan kopi terus berlanjut dan menempatkan komoditas tersebut sebagai salah satu hasil perkebunan yang memiliki nilai ekonomi bagi pemerintah kolonial.
Pada abad ke-19, produksi kopi juga berkaitan dengan sistem tanam paksa. Pada abad ke-19, produksi kopi berkembang di bawah sistem tanam paksa. Pada masa ini, muncul pula kebiasaan mengolah biji kopi yang ditemukan dalam kotoran luwak di perkebunan. Biji tersebut kemudian dibersihkan, disangrai dan diseduh, yang kelak dikenal sebagai kopi luwak.
Di sisi lain, kopi perlahan memiliki fungsi yang berbeda di tengah masyarakat. Minum kopi mulai menjadi bagian dari aktivitas sosial melalui warung kopi. Sejarawan Jonathan Morris dalam buku Coffee: A Global History menjelaskan perkembangan budaya ngopi di Indonesia melalui keberadaan warung kopi.
Salah satu warung kopi yang tercatat sebagai warung tertua di Indonesia berada di Batavia. Tempat tersebut berdiri sejak 1878 dan didirikan Liaw Tek Seon, saudagar asal China. Warung kopi tidak hanya digunakan untuk menikmati minuman, tetapi juga menjadi tempat masyarakat bertemu, berbincang dan bertukar informasi.
Dari Warung Kopi ke Coffee Shop
Perubahan gaya menikmati kopi semakin terlihat ketika konsep kafe mulai berkembang di kota-kota besar pada 1980-an hingga 1990-an. Jakarta, Bandung dan Surabaya menjadi sejumlah kota yang mengalami pertumbuhan tempat makan dan minum dengan konsep yang lebih modern.
Kopi kemudian tidak lagi hanya disajikan di warung sederhana. Kafe mulai menawarkan tempat yang nyaman, desain interior yang menjadi bagian dari pengalaman pengunjung serta pilihan makanan dan minuman yang lebih beragam.
Memasuki 2000-an, perkembangan coffee shop semakin pesat. Kehadiran merek internasional berjalan bersamaan dengan pertumbuhan kedai kopi lokal. Persaingan tersebut turut memperluas pilihan masyarakat dalam menikmati kopi.
Perubahan berikutnya muncul pada era gelombang ketiga kopi pada 2010-an. Konsumen mulai mendapatkan lebih banyak informasi mengenai jenis, asal dan proses pengolahan biji kopi. Istilah specialty coffee dan single origin semakin dikenal. Kopi kemudian tidak hanya dinilai berdasarkan rasa minumannya. Asal biji, metode seduh, proses pengolahan dan karakter rasa ikut menjadi bagian dari pengalaman menikmati kopi.
Kopi Mengikuti Mobilitas Masyarakat
Perkembangan kopi juga terlihat dari cara produk tersebut dijual. Pada sekitar 2016, konsep coffee-to-go semakin berkembang. Kopi diracik di kedai dan langsung dibawa konsumen untuk diminum saat beraktivitas.
Salah satu produk yang ikut mendorong tren tersebut adalah kopi susu. Perpaduan kopi, susu dan gula aren menjadi pilihan yang mudah diterima berbagai kelompok konsumen. Setelah itu, kopi susu berkembang dalam berbagai varian dengan tambahan bahan dan rasa yang berbeda.
Di luar coffee shop, budaya kopi keliling juga tetap bertahan. Di Jakarta, starling atau pedagang kopi keliling telah dikenal sejak sekitar 1999 dan mulai ramai pada 2000. Para pedagang menjajakan kopi dan minuman sachet menggunakan sepeda di kawasan perkantoran, halte dan ruang publik.
ARTIKEL TERKAIT
- Surabaya Jadi Pembuka ICX 2026, Pecinta Kopi Jangan Sampai Ketinggalan
- 5 Spot Ngopi Instagramable di Jakarta Bulan Ini
- RESEP : Kopi Alpukat, Nikmat dan Unik Bikin Melek Terus
- Hati-Hati! Ini Makanan dan Minuman yang Diam-diam Bikin Perut ‘Kacau’ Usai Makan Daging Kambing
- Minum Kopi Ternyata Dipercaya Turunkan Disfungsi Ereksi, Begini Penjelasannya