Said Aqil Siradj Kritik Ceramah Agama yang Dipenuhi Lelucon dan Caci Maki

0 Shares
Ukuran Teks:
20
Dengarkan:

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, menyoroti maraknya ceramah agama yang lebih banyak diisi lelucon dan caci maki daripada penyampaian ilmu. Menurutnya, pola ceramah semacam itu tidak mencerminkan esensi dakwah Islam.

Kritik tersebut disampaikan Kiai Said saat menjadi pembicara dalam Standardisasi Dai Angkatan ke-51 yang diselenggarakan Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Aula Universitas YARSI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026).

Ia menyayangkan adanya penceramah yang menjadikan humor dan kata-kata kasar sebagai materi utama, bahkan mendominasi ceramah dari awal hingga akhir.

“Itu yang kita katakan memalukan. Kadang-kadang dakwah, Masya Allah, isinya lelucon, kadang-kadang dari awal sampai akhir isinya caci maki. Enggak boleh, enggak boleh itu, bukan dakwah itu namanya,” ujar Kiai Said.

Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan, itu menegaskan bahwa humor sebenarnya tidak dilarang dalam dakwah. Candaan sesekali justru dapat menjadi selingan agar jamaah tidak merasa jenuh. Namun, penggunaannya harus tetap proporsional dan tidak menghilangkan substansi keilmuan.

“Dakwah, ya sekali-kali ada lucu dikit-dikit, sedikit enggak apa-apalah supaya tidak monoton. Tapi tidak boleh kalau dari awal sampai akhirnya ketawa, enggak boleh,” tuturnya.

Selain menyoroti metode penyampaian ceramah, Kiai Said juga mengingatkan pentingnya peran umat Islam sebagai umat wasathiyah atau umat yang moderat. Dengan merujuk QS Al-Baqarah ayat 143, ia menjelaskan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab dalam berbagai bidang kehidupan.

Tanggung jawab tersebut mencakup aspek keagamaan (diniyyan), peradaban (hadhariyyan), kebudayaan (tsaqafiyyan), sosial (ijtima’iyyan), serta kemanusiaan (insaniyyan madaniyyan).

Menurutnya, dakwah seharusnya mampu membangun kesadaran intelektual sekaligus mendorong umat untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Oleh sebab itu, seorang dai tidak cukup hanya mengandalkan retorika, simbol-simbol seremonial, atau ceramah yang memancing emosi dengan mencaci pihak lain.

Kiai Said berharap Standardisasi Dai MUI dapat menjadi sarana peningkatan kualitas para pendakwah, baik dari sisi penguasaan ilmu agama, metode komunikasi, maupun keteladanan akhlak.

Dengan kualitas dai yang semakin baik, dakwah Islam diharapkan tidak sekadar menjadi tontonan atau hiburan, tetapi benar-benar menjadi sarana edukasi, pencerahan, dan penyebaran kedamaian di tengah masyarakat.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Freelancer
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Freelancer, Muhammad Ibnu Idris
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!

YANG BARU