HOLOPIS.COM, JAKARTA – Produksi jagung RI diproyeksi tembus 16,39 juta ton pada 2026. Kabar baik bagi industri pakan ternak, atau ada ancaman di baliknya?
Industri pakan ternak berpeluang mendapat tambahan pasokan bahan baku dari dalam negeri.
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi jagung Indonesia sepanjang 2026 mencapai 16,39 juta ton.
Meski meningkat dibandingkan tahun lalu, ada sinyal penurunan produksi yang perlu diwaspadai menjelang tutup tahun.
Proyeksi tersebut menjadi perhatian karena jagung merupakan salah satu komoditas penting bagi industri pakan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan peternakan unggas.
Ketersediaan bahan baku yang cukup tentu menjadi salah satu penentu kelancaran produksi pakan.
Dalam pemaparan Berita Resmi Statistik, Senin (2/11/2026), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan bahwa produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% diperkirakan mencapai 16,39 juta ton selama Januari-Desember 2026.
Dibandingkan realisasi produksi 2025 sebesar 16,16 juta ton, terdapat tambahan sekitar 230 ribu ton.
Dengan demikian, produksi jagung nasional diproyeksikan tumbuh 1,43% secara tahunan.
Ateng menjelaskan, peningkatan tersebut merupakan gambaran akumulasi produksi sepanjang tahun.
Namun, jika dicermati berdasarkan periode panen, pergerakannya tidak selalu menunjukkan tren kenaikan.
Justru pada penghujung 2026, produksi jagung diperkirakan mengalami koreksi.
Untuk periode Oktober-Desember, BPS memperkirakan hasil panen hanya sekitar 3,23 juta ton.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!