Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan produksi pada kuartal terakhir 2025 yang mencapai 3,35 juta ton, artinya terdapat penurunan sebesar 3,55%.
Pelemahan produksi juga terlihat pada September 2026.
BPS memperkirakan hasil jagung pipilan kering pada bulan tersebut mencapai 1,30 juta ton, sedangkan pada September tahun sebelumnya masih berada di angka 1,39 juta ton, karena itu penurunannya mencapai 6,46%.
Situasi ini membuat kenaikan produksi sepanjang tahun perlu dibaca secara lebih cermat.
Sebab, pertumbuhan pada sembilan bulan pertama belum tentu menjamin kelimpahan pasokan pada bulan-bulan berikutnya.
Sepanjang Januari-September 2026, produksi jagung diperkirakan mencapai 13,16 juta ton.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 12,81 juta ton, atau mengalami pertumbuhan 2,73%.
Di tengah proyeksi peningkatan produksi, perkembangan luas panen jagung juga menarik dicermati.
BPS memperkirakan lahan yang dipanen sepanjang 2026 mencapai 2,71 juta hektare.
Namun, angka tersebut nyaris tidak bergerak dibandingkan tahun sebelumnya.
Bahkan, luas panen diproyeksikan menyusut tipis 0,06%.
Penyusutan lebih terlihat pada periode Oktober-Desember 2026.
Luas panen diperkirakan hanya 480 ribu hektare, berkurang sekitar 7,30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 510 ribu hektare.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!