HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pelatih Juventus Luciano Spalletti melontarkan kritik tajam terhadap mentalitas timnya setelah Bianconeri gagal mempertahankan keunggulan dua gol saat meladeni Torino dalam Derby della Mole. Laga panas itu berakhir imbang 2-2 itu.
Hasil imbang itu menutup musim buruk Juventus yang hanya mampu finis di posisi keenam Serie A dan harus puas tampil di Liga Europa musim depan.
Pertandingan di Stadio Grande Torino berlangsung penuh drama sejak sebelum kick-off. Laga bahkan harus ditunda selama satu jam akibat bentrokan antara ultras Juventus dan Torino di luar stadion.
Situasi memanas setelah seorang suporter Juventus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Ultras Bianconeri juga dikabarkan mengancam akan menyerbu lapangan jika pertandingan tetap dimulai sesuai jadwal.
Pun, laga akhirnya digelar. Sebagian besar pendukung Juventus memilih meninggalkan tribun stadion sebagai bentuk protes.
Di tengah atmosfer panas tersebut, Juventus sebenarnya sempat berada di atas angin setelah unggul dua gol lebih dulu. Namun, Torino mampu bangkit dan memaksakan hasil imbang yang membuat Bianconeri kembali kehilangan poin penting.
Usai pertandingan, Spalletti menyoroti sikap dan karakter para pemainnya. Menurutnya, laga seperti derby justru menjadi ujian sesungguhnya bagi mental seorang pemain.
“Saya adalah pelatih yang harus menganalisis apa yang terjadi. Kami menguasai pertandingan; dalam pertandingan seperti inilah Anda melihat karakter orang-orang dan bagaimana kami terbentuk dari dalam,” ujar Spalletti kepada Sky Sport Italia.
Dia menyinggung pentingnya para pemain bisa mencari sesuatu yang lebih di laga krusial.
Pelatih asal Italia itu menegaskan Juventus membutuhkan fondasi mental yang lebih kuat jika ingin kembali bersaing di level tertinggi musim depan.
“Itulah yang diharapkan semua orang, dan itu adalah hal yang benar untuk dilakukan,” kata Spalletti.
Dia minta agar pemainnya bisa hadir di lapangan dengan kepala tegak.
“Kami wajib bermain, dengan kepala tegak melawan siapa pun. Tujuannya adalah untuk menciptakan tim tingkat tinggi untuk mengisi celah yang telah kami lihat selama enam atau tujuh bulan terakhir,” tutur Spaletti.
Menurut Spalletti, kualitas teknik dan fisik tidak akan cukup tanpa keberanian mengambil keputusan di lapangan.
“Saya pikir karakter selalu membuat perbedaan. Terkadang, kepribadian bertemu. Itu adalah sesuatu yang sama pentingnya dengan kekuatan fisik dan teknik,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sikap ragu-ragu para pemain yang dinilai menjadi salah satu penyebab Juventus gagal tampil konsisten sepanjang musim.
“Seorang pemain sepak bola tidak boleh mengubah pola pikirnya saat melawan tim tertentu. Ia bisa menang atau kalah, tetapi harus selalu memiliki sikap yang sama,” ujar Spalletti.

