HOLOPIS.COM, JAKARTA – Iran bersumpah untuk membalas dengan ‘ganas’ setiap serangan dari Amerika Serikat (AS). Teheran juga memperingatkan tentang konflik regional sebagai tanggapan terhadap ancaman serangan Presiden AS Donald Trump.
Pejabat Iran selalu merespons ancaman Trump. Pun, saat AS dan Iran tengah bersiap dalam menghadapi perundingan kedua soal progra, nuklir di Jenewa, Swiss.
Salah satunya saat Trump sesumbar tengah pertimbangkan serangan terbatas jika Iran tak mencapai kesepakatan. Tapi, omongan Trump kembali direspons otoritas Teheren dengan melontarkan setiap serangan bakal dianggap sebagai tindakan agresi.
“Dan, negara mana pun akan bereaksi terhadap tindakan agresi. Balas dengan ganas, jadi itulah yang akan kami lakukan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei dikutip dari SBS News pada Selasa, (24/2/2026).
Namun, kondisi di Iran saat menghadapi tekanan AS dengan pengerahan kekuatan militer di Timur Tengah, sejumlah mahasiswa universitas protes anti-pemerintah. Para mahasiswa itu menghidupkan kembali slogan-slogan dari demonstrasi nasional yang memuncak pada bulan Januari 2026.
Media pemerintah melaporkan mahasiswa meneriakkan slogan anti-pemerintah di Universitas Teheran. Lalu, ada mahasiswa yang membakar bendera di Universitas al-Zahra.
Negosiasi berlanjut
Iran menyampaikan siap menyerahkan draf proposal untuk kesepakatan tentang program nuklirnya kepada mediator. Draf proporsal itu untuk perundingan selanjutnya.
Trump pekan lalu sempat mengancam Teheran dengan hanya memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan.
Iran bersikeras program nuklirnya untuk penggunaan sipil. Tapi, Barat percaya bahwa program tersebut bertujuan untuk membangun bom atom.
Meskipun Iran menarik semua hal di luar masalah nuklir, Washington dalam perundingan juga ingin bahas senjata rudal Teheran dan dukungannya terhadap kelompok militan di kawasan tersebut.
Kedua negara sebelumya menyelesaikan putaran kedua pembicaraan tidak langsung di Jenewa, dengan mediasi Oman.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan dimulainya kembali pembicaraan merupakan ‘peluang baru’. Tapi, dia memperingatkan risiko konflik regional jika negaranya diserang.
“Konsekuensi dari agresi baru apa pun tidak akan terbatas pada satu negara saja dan tanggung jawab akan berada pada mereka yang memulai atau mendukung tindakan tersebut,” kata Gharibabadi.

