Adaptasi Wuthering Heights Picu Pro dan Kontra, Ini Deretan Kontroversinya

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTAFilm Wuthering Heights versi 2026 garapan Emerald Fennell saat ini sudah resmi tayang di bioskop Indonesia. Adaptasi longgar dari novel klasik karya Emily Brontë ini dibintangi Margot Robbie sebagai Catherine Earnshaw dan Jacob Elordi sebagai Heathcliff.

Namun, jauh sebelum rilisnya, film ini sudah menuai berbagai kontroversi. Sejak pengumuman proyek hingga pemilihan pemain, adaptasi ini memancing perdebatan di kalangan penggemar sastra maupun pencinta film.

1. Kekhawatiran Gaya Emerald Fennell

Gelombang kritik pertama muncul pada Juli 2024 ketika diumumkan bahwa Emerald Fennell akan mengadaptasi novel klasik tersebut. Fennell dikenal lewat film Promising Young Woman dan Saltburn, dua karya yang sukses secara komersial namun juga memicu perdebatan.

Sebagian kritikus menilai Fennell kerap mengedepankan gaya visual yang mencolok dibanding kedalaman substansi, meski mengangkat tema serius seperti kekerasan seksual dan konflik kelas. Kekhawatiran pun muncul bahwa Wuthering Heights akan mengalami pendekatan serupa, yakni lebih menonjolkan estetika ketimbang kompleksitas emosional khas Brontë.

2. Usia Margot Robbie dan Jacob Elordi Jadi Sorotan

Kontroversi berikutnya muncul pada September 2024 saat Margot Robbie dan Jacob Elordi dikonfirmasi memerankan Cathy dan Heathcliff. Dalam novel aslinya, kisah cinta intens keduanya banyak terjadi ketika mereka masih remaja.

Sementara itu, Robbie kini berusia 35 tahun dan Elordi 28 tahun. Perbedaan usia ini membuat sebagian pembaca mempertanyakan keakuratan penggambaran fase muda karakter yang menjadi inti dinamika hubungan mereka.

- Advertisement -

3. Komentar Pedas hingga Ancaman

Perdebatan di media sosial bahkan sempat memanas. Direktur casting film ini, Kharmel Cochrane, mengungkap pernah menerima komentar ekstrem di Instagram yang menyebut dirinya pantas ditembak karena keputusan casting tersebut.

Meski demikian, Cochrane tidak gentar. Ia menyatakan bahwa adaptasi tidak harus sepenuhnya akurat terhadap sumber aslinya.

“Itu hanya buku. Itu tidak berdasarkan kehidupan nyata. Semuanya adalah seni,” ujarnya dalam sebuah wawancara pada April lalu.

4. Antara Klasik dan Interpretasi Modern

Sebagai novel klasik yang terbit pada 1847, Wuthering Heights memiliki basis penggemar yang kuat dan ekspektasi tinggi terhadap adaptasi layar lebarnya. Versi Fennell disebut sebagai interpretasi yang lebih bebas dan tidak sepenuhnya setia pada teks asli.

Sebagian pihak melihat pendekatan ini sebagai bentuk keberanian kreatif, sementara yang lain menilainya sebagai risiko terhadap integritas karya klasik tersebut.

Saat ini, Wuthering Heights sudah bisa disaksikan di bioskop-bioskop tanah air. Sobat Holopis sudah beli tiketnya belum?

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU