Sabtu, 21 Feb 2026
BREAKING
Sabtu, 21 Feb 2026
MEMUAT...
-- --- ----
00:00:00
...
-- ...
Imsak 00:00
Subuh 00:00
Dzuhur 00:00
Ashar 00:00
Maghrib 00:00
Isya 00:00

Menelusuri Jejak Peradaban Megalitik Berusia 8.000 Tahun di Poso

69 Shares

HOLOPIS.COMPOSO Di balik rimbunnya hutan dan hamparan padang rumput Lembah Behoa dan Lembah Bada, tersimpan sebuah rahasia besar tentang asal-usul peradaban Nusantara. Kawasan Megalitik Lore Lindu, yang secara administratif terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, kini semakin menarik perhatian dunia arkeologi internasional sebagai salah satu situs pemukiman prasejarah tertua dan paling signifikan di Indonesia.

Bukan sekadar tumpukan batu, situs-situs seperti Tadulako, Pokekea, dan Tambi merupakan saksi bisu dari masyarakat yang telah memiliki struktur sosial kompleks ribuan tahun sebelum masehi.

- Advertisement -

Para ahli memperkirakan bahwa tinggalan arkeologis di kawasan ini memiliki usia yang sangat mencengangkan. Jika selama ini banyak yang menganggap peradaban besar Nusantara baru dimulai di era kerajaan, temuan di Lore Lindu mematahkan asumsi tersebut.

Menurut laporan riset terbaru, usia tinggalan arkeologis di kawasan ini mencapai lebih dari 4.000 tahun, bahkan di beberapa titik tertentu diperkirakan berusia hingga 8.000 tahun.

- Advertisement -

Hal ini menempatkan Sulawesi Tengah sebagai salah satu titik nol peradaban tua di Nusantara, sezaman atau bahkan lebih tua dari beberapa fase awal peradaban besar di belahan dunia lain.

Salah satu permata mahkota dari kawasan ini adalah Situs Megalitik Pokekea. Berkat nilai sejarah dan ilmu pengetahuannya yang tak terukur, situs ini telah resmi ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional.

Berjalan melintasi padang rumput ilalang di Pokekea terasa seperti memasuki mesin waktu. Di sini, pengunjung dan peneliti dapat menemukan berbagai artefak yang menunjukkan kemajuan teknologi masa lampau, antara lain:

  1. Arca Antropomorfik: Patung-patung batu dengan pahatan wajah manusia yang misterius, sering disebut oleh penduduk lokal sebagai representasi nenek moyang atau tokoh sakral (seperti Arca Tadulako).
  2. Kalamba & Tutup Kalamba: Bejana batu raksasa yang berfungsi sebagai peti jenazah komunal atau tempat penyimpanan air suci.
  3. Dolmen & Batu Berlubang: Struktur meja batu yang diduga kuat digunakan untuk upacara ritual atau pemujaan.
  4. Lumpang & Dulang Batu: Alat-alat pengolahan pangan yang membuktikan bahwa masyarakat saat itu sudah mengenal sistem pertanian dan pengolahan makanan yang menetap.

Analisis arkeologi menunjukkan bahwa kawasan Lore Lindu bukan sekadar kompleks pemakaman. Sebaran fragmen tembikar, tempayan, dan umpak (fondasi bangunan) menunjukkan bahwa ini adalah kawasan hunian terpadu.

Pola penempatan megalit mengindikasikan pembagian fungsi wilayah yang jelas antara area pemukiman, area penguburan, dan area pemujaan. Kemampuan masyarakat saat itu untuk memahat, mengangkut, dan menata batu-batu raksasa (megalit) menjadi bukti adanya gotong royong dan kepemimpinan yang terorganisir dengan sangat baik.

Keunikan dan validitas sejarah yang dimiliki Lore Lindu menjadikan kawasan ini sebagai kandidat kuat untuk diakui secara global. Keberadaannya bukan hanya menjadi kebanggaan bagi warga Sulawesi Tengah, tetapi juga merupakan potongan “puzzle” yang krusial dalam menyusun sejarah panjang kebudayaan Indonesia.

Pemerintah dan para arkeolog terus berupaya melakukan konservasi agar jejak peradaban yang telah bertahan selama ribuan tahun ini tetap terjaga, menjadi laboratorium ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang yang ingin mempelajari akar jati diri bangsa.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
69 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru