JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan sebanyak 227 anak meninggal dunia akibat kekurangan gizi dan kelaparan di Gaza akibat blokade dan pengurangan pemasukan bantuan yang dilakukan oleh Israel. Otoritas kesehatan di Gaza melaporkan bahwa lima orang meninggal dalam 24 jam terakhir sehingga menambah jumlah total kematian.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric mengatakan bahwa kematian terkait kekurangan gizi terhadap anak-anak sudah terjadi sejak Oktober 2023. Angkanya pun tidak main-main, dengan 103 anak di Palestina harus kehilangan nyawa akibat malnutrisi.
“Kematian terkait kekurangan gizi mencakup 103 anak sejak Oktober 2023,” katanya Stephane, dikutip Holopis.com, Kamis (14/8).
Sementara itu, Program Pangan Dunia memperingatkan bahwa kelaparan dan kekurangan gizi telah mencapai tingkat tertinggi di Gaza sejak konflik dimulai pada bulan yang sama.
“Dengan latar belakang ini, pasokan kemanusiaan yang masuk ke Gaza masih jauh di bawah jumlah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.
Ia juga menambahkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa masih sulit untuk mengirimkan bantuan dalam jumlah yang memang dibutuhkan oleh masyarakat Palestina.
“Gerakan kemanusiaan masih menghadapi penundaan yang signifikan dan hambatan lain yang mencegah PBB mengirimkan bantuan dalam skala yang dibutuhkan,” pungkasnya.
Israel Tolak Misi Kemanusiaan yang Diajukan PBB
Pada hari Senin, Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta koordinasi dengan otoritas Israel untuk 16 misi, termasuk pengumpulan makanan, pasokan medis, dan bahan bakar, tetapi hanya empat yang difasilitasi, dan tiga ditolak. Empat misi lainnya dihambat tetapi akhirnya terlaksana sepenuhnya, kata Dujarric.
Dari lima misi yang tersisa, dua di antaranya dibatalkan oleh masing-masing organisasi, dua lainnya terhambat dan tidak dapat diselesaikan, sementara satu lainnya terhambat tetapi masih berlangsung, katanya.
“Upaya untuk mengoordinasikan gerakan kemanusiaan seringkali tertunda selama berjam-jam karena izin yang tidak dapat diprediksi oleh otoritas Israel, sehingga membuang-buang waktu yang berharga,” pungkas Stephane.

