JAKARTA – Di tengah perjalanan panjang yang tak pernah kehilangan gasnya, episode 1128 dari One Piece akhirnya tayang dan seperti yang diharapkan langsung menyulut semangat penggemar dengan duel besar yang mulai membara: Luffy vs Kizaru.
Setelah episode sebelumnya menyiapkan ketegangan di Pulau Egghead, kali ini tensinya melonjak tajam. Luffy, dengan gaya khasnya yang spontan dan penuh energi, akhirnya berhadapan langsung dengan salah satu musuh paling tangguh dari angkatan laut: Borsalino alias Kizaru.
Pertarungan ini bukan hanya sekadar adu kekuatan, tapi juga konfrontasi ideologi—antara kebebasan yang diperjuangkan Luffy dan “kecepatan cahaya” ketegasan dari pihak Pemerintah Dunia.
Visual episode ini tetap solid—Toei Animation tampaknya terus menjaga kualitas di arc Egghead. Gerakan Kizaru terasa mengancam, bahkan dalam momen-momen yang dibuat terlihat ringan.
Luffy sendiri, setelah arc Wano yang monumental, kini hadir dengan kepercayaan diri dan kekuatan yang sepenuhnya matang. Gear 5 mungkin belum dikeluarkan di episode ini, tapi aura ancamannya sudah terasa.
Satu hal menarik dari episode 1128 adalah bagaimana Eiichiro Oda, lewat animasi, menyisipkan nuansa ‘sindiran lembut’ terhadap sistem otoriter dalam dunia One Piece. Vegapunk, satelit-satelitnya, dan Bonnie juga tak hanya jadi figuran mereka punya momen-momen kecil yang memperkuat sisi kemanusiaan dari cerita sci-fi ini.
Bagi yang sudah mengikuti manga, tentu episode ini terasa seperti menyaksikan halaman-halaman yang dulu dibaca kini hidup sepenuhnya. Tapi bagi penonton anime-only, ini adalah momen ledakan pertama dari konflik besar yang perlahan dibangun sejak awal Egghead.
Satu hal yang pasti: One Piece belum kehilangan taringnya. Bahkan setelah seribu lebih episode, dunia ini masih punya cara untuk membuat kita duduk tegak, menebak-nebak langkah selanjutnya, dan tentu saja berteriak “LUFFY!!” tiap kali ia berdiri melawan raksasa yang jauh lebih kuat.

