JAKARTA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan sudah tiba di Indonesia dan langsung disambut oleh Presiden Prabowo Subianto. Kehadiran Erdoğan pun disambut dengan hangat dan meriah di Jakarta.
Kehadiran Erdoğan di Indonesia diharapkan dapat semakin memperkuat hubungan Indonesia dan Turki di masa yang akan datang.
Ini dia biodata Recep Tayyip Erdoğan, sosok presiden Turki yang sangat legendaris.
- Nama : Recep Tayyip Erdoğan
- Tanggal lahir : 26 Februari 1954
- Tempat lahir : Güneysu, Rize, Turki
- Istri : Emine Gülbaran
Kehidupan Pribadi
Recep Tayyip Erdoğan lahir pada 26 Februari 1954 di Güneysu, Rize, Turki. Pada usia 13 tahun, ia pindah ke Istanbul bersama keluarganya. Erdoğan menempuh pendidikan di Akademi Ilmu Ekonomi dan Komersial Aksaray, di mana ia memperoleh gelar dalam administrasi bisnis. Sebelum terjun ke dunia politik, ia bekerja sebagai konsultan dan manajer senior di sektor swasta.
Awal Karir Politik
Erdoğan memulai karir politiknya dengan terlibat dalam partai-partai yang dipimpin oleh Necmettin Erbakan, seorang politikus Islamis veteran. Ia menjabat sebagai ketua distrik Beyoğlu dan kemudian sebagai ketua Istanbul. Pada tahun 1994, ia terpilih sebagai Wali Kota Istanbul, di mana ia menerapkan reformasi yang signifikan untuk memodernisasi infrastruktur dan ekonomi kota.
Namun, karir politiknya sempat terhambat pada tahun 1998 ketika ia dihukum karena menghasut kebencian agama dan dilarang berpolitik. Setelah dibebaskan pada tahun 1999, Erdoğan meninggalkan politik Islamis dan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada tahun 2001.
Peran sebagai Perdana Menteri
Erdoğan memimpin AKP meraih kemenangan telak dalam pemilihan Majelis Agung Nasional pada tahun 2002. Setelah larangan politiknya dicabut, ia menjadi Perdana Menteri pada tahun 2003. Di bawah kepemimpinannya, Turki mengalami pemulihan ekonomi pasca krisis 2001, serta peningkatan infrastruktur yang mencakup jalan raya dan kereta api berkecepatan tinggi.
Masa jabatan awalnya ditandai dengan reformasi yang memicu negosiasi keanggotaan Uni Eropa. Erdoğan juga berhasil memenangkan dua referendum konstitusi pada tahun 2007 dan 2010, serta mengurangi pengaruh militer dalam politik.
Menjadi Presiden Turki
Pada tahun 2014, Erdoğan terpilih sebagai presiden pertama Turki yang dipilih secara langsung. Namun, kepresidenannya telah ditandai dengan kemunduran demokrasi, pelanggaran hak asasi manusia, dan penindasan kebebasan berbicara. Ia menghadapi kritik terkait berbagai isu, termasuk penanganan unjuk rasa Taman Gezi pada tahun 2013 dan upaya kudeta gagal pada tahun 2016.
Di bawah kepemimpinannya, Turki mengubah sistem pemerintahan menjadi sistem presidensial melalui referendum pada tahun 2017. Meskipun partainya kehilangan kekuasaan di beberapa kota besar dalam pemilihan lokal 2019, Erdoğan tetap memegang kendali sebagai presiden eksekutif.
Sejak tahun 2018, Erdoğan telah menghadapi tantangan ekonomi, termasuk inflasi tinggi dan depresiasi nilai lira Turki akibat kebijakan moneter yang tidak ortodoks. Ia juga memimpin respons Turki terhadap pandemi COVID-19 dan meluncurkan program vaksinasi.
Dalam kebijakan luar negeri, Erdoğan mengambil langkah aktif terkait konflik di Suriah, menjadi negara tuan rumah pengungsi terbesar di dunia, dan terlibat dalam operasi melawan berbagai kelompok bersenjata. Ia juga menanggapi invasi Rusia ke Ukraina dengan mengimplementasikan langkah-langkah diplomatik yang signifikan.

