“Foto yang beredar itu memang foto real saya menggunakan seragam dinas yang diambil dari sorotan Instagram. Namun untuk videonya, itu video orang lain yang tidak saya ketahui sama sekali. Itu jelas bukan saya,” tegas Tasya.
Rasa penasaran netizen dimanfaatkan sejumlah akun anonim untuk menyebarkan tautan yang diklaim berisi video lengkap berdurasi lima menit.
Modus penyebarannya terbilang beragam.
Sebagian tautan yang muncul di kolom komentar X dan TikTok mengarahkan pengguna ke situs iklan, halaman mencurigakan, hingga unduhan aplikasi pihak ketiga.
Ada pula tautan yang mengarahkan pengguna ke kanal Telegram privat.
Pengunjung bahkan disebut-sebut diminta membayar sekitar Rp170.000 hingga Rp250.000 untuk mendapatkan akses video yang diklaim sebagai konten lengkap.
Pola tersebut patut diwaspadai. Sebab, belum ada bukti bahwa tautan berbayar itu benar-benar menyediakan video sebagaimana yang dijanjikan.
Sebaliknya, penggunaan foto pribadi seseorang untuk memancing klik dapat menjadi bagian dari modus penipuan sekaligus pencemaran nama baik.
Kasus pencatutan foto ini ternyata bukan hanya dialami Tasya.
Dalam keterangannya, ia menyebut sedikitnya lima pegawai di lingkungan Kejaksaan, termasuk rekan satu angkatan dan seniornya, pernah mengalami modus serupa.
Persoalan tersebut memperlihatkan bagaimana foto yang diunggah secara terbuka di media sosial bisa disalahgunakan untuk membangun narasi palsu.
Dampaknya bukan sekadar membuat nama seseorang menjadi perbincangan.
Korban juga berpotensi mengalami tekanan psikologis akibat tuduhan dan komentar negatif dari pengguna internet.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!