BMKG Siaga 24 Jam, 20 Alat Pantau Tsunami Disiapkan di Selat Sunda

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA — Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan pemantauan di kawasan Selat Sunda. Bukan hanya potensi tsunami, BMKG juga mengawasi pergerakan abu vulkanik yang bisa berdampak pada keselamatan penerbangan.

Pemantauan dilakukan selama 24 jam dengan mengoptimalkan berbagai instrumen yang dimiliki BMKG.

“Intinya adalah bahwa BMKG terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, khususnya terhadap atmosfer, kemudian penerbangan, dan kondisi laut di Selat Sunda yang terkait dengan potensi tsunami,” jelas Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers, Sabtu (6/9).

20 Alat Pantau Tsunami Disiagakan

Untuk mengantisipasi kemungkinan tsunami, BMKG menyiagakan 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda.

Selain itu, dua perangkat High-Frequency Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung, Banten, juga dioperasikan secara penuh.

Peralatan tersebut telah diatur dalam tsunami mode. Dengan pengaturan ini, pemantauan potensi tsunami bisa dilakukan hingga sekitar 150 kilometer dari garis pantai.

Namun, berdasarkan data hingga Sabtu (6/9) pukul 07.00 WIB, belum ada indikasi tsunami yang terdeteksi oleh tsunami gauge BMKG.

High-Frequency Radar Array juga menunjukkan probabilitas tsunami masih berada pada tingkat rendah.

“Meski demikian, BMKG tetap meningkatkan kesiapsiagaan dan pemantauan secara terus menerus,” jelasnya.

Abu Terpantau hingga 50.000 Kaki

Selain kondisi laut, BMKG juga memantau pergerakan abu vulkanik menggunakan citra satelit.

Data Sabtu (6/9) pukul 08.00 WIB menunjukkan abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak dominan ke arah timur.

Sebaran ini mencakup sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Sementara abu vulkanik pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat Gunung Anak Krakatau. Wilayah yang tercakup antara lain Lampung, Bengkulu, Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.

Pergerakan abu di ketinggian tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan keselamatan penerbangan.

Informasi Penerbangan Terus Diperbarui

Hasil pemantauan sebaran abu kemudian menjadi salah satu dasar BMKG dalam menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET).

SIGMET merupakan informasi peringatan dini yang digunakan untuk mendukung keselamatan penerbangan dan diperbarui mengikuti perkembangan kondisi atmosfer.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Ronalds Petrus Gerson
Tim Penulis & Editor
Ronalds Petrus Gerson
Apresiasi untuk Ronalds Petrus Gerson

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!

Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU