Ekspor Nonmigas RI Makin Moncer! Mendag Busan Yakin Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

0 Shares

Di tengah optimisme terhadap ekspor, pemerintah masih menghadapi tantangan dari sisi impor.

Budi menyebut lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang menekan neraca perdagangan Indonesia.

Kondisi tersebut berkaitan dengan eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz yang turut mendorong volatilitas harga minyak global.

Pada Februari 2026, harga minyak masih berada pada kisaran USD60-65 per barel.

Namun, setelah eskalasi konflik pada Maret, harga minyak bergerak lebih tinggi.

Data Bank Dunia per 2 Juli 2026 menunjukkan harga minyak dunia pada April-Mei bahkan telah menembus USD100 per barel.

- Advertisement -

Lonjakan harga tersebut membuat biaya impor, terutama komoditas migas, ikut meningkat.

Pada Maret 2026, nilai satuan impor migas masih berada di level USD689 per ton.

Angka itu melonjak menjadi USD1.042 per ton pada Mei sebelum turun menjadi USD869 per ton pada Juni.

Dampaknya juga terasa pada impor nonmigas.

Nilai satuan impor nonmigas yang pada Maret tercatat USD968 per ton meningkat menjadi USD1.081 per ton pada Juni.

Jika migas dan nonmigas digabung, nilai rata-rata impor Indonesia naik dari USD907 per ton pada Maret menjadi USD1.036 per ton pada Juni.

“April-Mei merupakan periode puncak tingginya harga minyak dunia, mencapai sekitar USD110 per barel. Dengan situasi ini, nilai satuan impor per ton pada Mei mengalami peningkatan dan masih berlanjut hingga Juni,” jelas Budi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang.Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU