Viral! Pria Diduga Curi Ayam Tewas Dikeroyok Massa, Tangisan Anak Bungsunya Banjiri Media Sosial
TABANAN, HOLOPIS.COM – Viral di media sosial, seorang pria yang diduga mencuri ayam tewas dikeroyok massa. Tangisan histeris anak bungsunya di samping jenazah menyita perhatian publik.
Tangisan seorang bocah perempuan memecah keheningan di samping jenazah ayahnya.
Dengan suara bergetar, ia terus memanggil sosok yang tak lagi mampu menjawab.
Momen yang terekam dalam sebuah video itu kini viral di berbagai media sosial dan mengundang gelombang simpati dari masyarakat.
Video tersebut diketahui beredar luas setelah turut diunggah oleh tokoh publik Ni Luh Djelantik melalui akun Instagram pribadinya.
Tak butuh waktu lama, rekaman itu menyebar ke berbagai platform digital dan menjadi perbincangan hangat.
Ribuan warganet mengaku tersentuh melihat seorang anak kecil yang harus menerima kenyataan pahit kehilangan ayahnya.
Dalam video yang beredar, anak bungsu korban terlihat berusaha mendekati jenazah sang ayah sambil menangis histeris.
Beberapa orang di sekitar terpaksa memeganginya karena bocah itu terus meronta dan memanggil ayahnya, seolah belum percaya orang yang selama ini menjadi tempat berlindung telah pergi untuk selamanya.
Di balik tangisan yang menyayat hati itu, tersimpan kisah pilu sebuah keluarga yang mendadak kehilangan tulang punggung.
Korban berinisial KD diketahui meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
Dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah, sementara sang anak bungsu yang videonya viral kini menjadi sorotan publik.
KD dilaporkan meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa usai dituduh mencuri ayam aduan di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Jumat (24/7/2026).
Peristiwa tersebut memicu perhatian luas. Bukan hanya karena aksi main hakim sendiri yang berujung maut, tetapi juga karena duka mendalam yang terlihat jelas dari keluarga yang ditinggalkan.
Tangisan sang anak menjadi simbol kehilangan yang membuat banyak pengguna media sosial mengaku tak sanggup menonton video tersebut hingga selesai.
Informasi yang beredar menyebutkan, selain diduga dikeroyok hingga meninggal dunia, sepeda motor yang digunakan KD juga dilaporkan dibakar massa.
Hingga kini, aparat kepolisian masih menyelidiki secara menyeluruh kronologi kejadian serta pihak-pihak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
Gelombang empati kemudian terus berdatangan dari berbagai kalangan.
Artis Aldi Taher menjadi salah satu tokoh publik yang tak mampu menyembunyikan kesedihannya setelah melihat video viral tersebut.
Dalam unggahan di media sosial, ia tampak menangis sambil mengajak masyarakat menghentikan budaya main hakim sendiri.
Menurut Aldi, Indonesia adalah negara hukum sehingga siapa pun yang diduga melakukan tindak pidana harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku, bukan dihakimi oleh massa.
Ia juga mendoakan agar anak-anak korban diberikan kekuatan menghadapi cobaan berat tersebut.
Perhatian serupa datang dari anggota DPD RI Arya Wedakarna.
Ia menyatakan siap menanggung biaya pendidikan anak-anak korban hingga menyelesaikan kuliah.
Arya mengaku telah berbicara langsung dengan salah satu anak korban melalui sambungan telepon dan berjanji akan mengunjungi keluarga tersebut.
Tak hanya itu, pengusaha John LBF juga menyampaikan niat membantu keluarga korban.
Ia bahkan menawarkan diri untuk mengangkat anak korban sebagai anak angkat dan menanggung biaya hidup serta pendidikannya hingga dewasa.
Sementara itu, Kementerian Hak Asasi Manusia melalui Koordinator Wilayah Kerja Bali menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Dugaan tindak pidana harus diserahkan kepada aparat penegak hukum untuk diproses sesuai aturan yang berlaku.
Kini, saat penyelidikan masih terus berlangsung, video tangisan anak bungsu KD masih beredar luas di media sosial.
Bagi banyak orang, rekaman itu bukan sekadar video viral, melainkan potret pilu seorang anak yang kehilangan ayahnya dalam tragedi yang menyisakan luka mendalam.
Tangisan yang menggema di samping jenazah sang ayah pun menjadi pengingat bahwa di balik setiap aksi kekerasan, selalu ada keluarga yang harus menanggung duka panjang.
Editor: Redaktur