Saat Taksi Terbang eVTOL Mulai Dilirik untuk Mengurai Kemacetan Jakarta

HOLOPIS.COM, JAKARTA — Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) secara resmi mulai membidik ranah mobilitas udara perkotaan atau Urban Air Mobility (UAM) dan teknologi taksi terbang sebagai bagian dari wajah baru ekonomi kreatif Indonesia.

Langkah strategis ini diluncurkan untuk memperluas definisi ekonomi kreatif nasional, yang kini tidak lagi sebatas seni dan budaya melainkan juga mencakup inovasi teknologi canggih masa depan.

Dukungan nyata tersebut ditunjukkan oleh Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf, Muhammad Neil El Himam, dalam acara Welcoming the Future of Air Mobility di Cengkareng Heliport, Tangerang.

"Acara hari ini bukan sekadar memperkenalkan teknologi baru, melainkan momentum untuk melihat bagaimana kreativitas, teknologi, dan inovasi dapat bertemu dalam membentuk masa depan mobilitas Indonesia," ujar Neil dalam sambutannya.

Neil menerangkan bahwa sesuai mandat undang-undang, ekonomi kreatif pada dasarnya merupakan perwujudan nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber dari kreativitas manusia yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Jadi ekraf bukan hanya tentang seni dan budaya, melainkan inovasi dan teknologi yang mengubah pengetahuan menjadi solusi bernilai ekonomi bagi masyarakat," tegas Neil menambahkan esensi penting tersebut.

Melalui inisiatif ini, konsep Advanced Air Mobility (AAM) dan teknologi Electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) diperkenalkan sebagai solusi transportasi masa depan bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

Kehadiran armada transportasi udara bertenaga listrik ini diharapkan mampu memicu lahirnya generasi baru talenta aviasi nasional melalui sinergi yang kuat antara sektor pendidikan, industri, dan pemerintah.

Hubungan lintas sektor ini sengaja dibangun agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton atau pasar, melainkan mampu membangun ekosistem kedirgantaraan mandiri yang berdaya saing global.

"Keberhasilan UAM bukan soal teknologi eVTOL, melainkan kolaborasi membangun ekosistem mobilitas Indonesia yang maju dan berdaya saing," ungkap Neil menjelaskan esensi kolaborasi tersebut.

Neil juga memproyeksikan lahirnya berbagai profesi baru di masa depan seperti operator sistem, teknisi khusus, pengembang perangkat lunak penerbangan, hingga spesialis kecerdasan buatan untuk mengelola teknologi ini.

Sisi operasional dari visi besar ini diwujudkan melalui kemitraan strategis antara Whitesky Aviation, perusahaan aviasi swasta nasional, dengan SkyDrive yang merupakan pengembang kendaraan terbang asal Jepang.

Presiden Direktur Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mengurai kemacetan di kawasan metropolitan sekaligus menyediakan opsi transportasi yang ramah lingkungan.

"Kerja sama penjajakan penerapan teknologi eVTOL ini merupakan ikhtiar bersama dalam menyongsong sistem transportasi masa depan Indonesia yang efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan," tutur Denon.

Demi menyokong ketersediaan sumber daya manusia, Whitesky Aviation juga resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti sebagai mitra akademik untuk mempercepat transfer teknologi.

Oleh : Dede Suhadi
Editor : Ronalds Petrus Gerson
Tampilan Utama