HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto menjadikan kemandirian energi sebagai salah satu prioritas utama pemerintahannya.
Berbagai kebijakan pun tengah disiapkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Menurut Qodari, upaya tersebut merupakan bagian dari agenda besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional, baik di sektor pangan maupun energi.
“Bangsa ini harus mandiri. Bangsa ini harus maju. Lepas dari ketergantungan pangan, lepas dari ketergantungan energi. Itu kan semua (usaha) Pak Prabowo,” kata Qodari dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah sebelumnya telah menunjukkan hasil positif di sektor pangan melalui peningkatan produksi beras dan pupuk. Namun, tantangan yang dihadapi di sektor energi dinilai jauh lebih besar karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak.
“Soal energi pasti lebih sulit. Kenapa? Karena memang impor kita sangat besar. Kebutuhan kita sehari 1,6 juta liter, tetapi kita cuma bisa produksi 600 ribu,” ujarnya.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi berbasis bahan baku dalam negeri. Beberapa program yang dikembangkan antara lain biodiesel B50 untuk bahan bakar solar dan campuran etanol E20 pada bensin.
Qodari juga menyinggung soal harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan pasar global. Menurutnya, faktor eksternal masih memiliki pengaruh besar terhadap harga energi di Indonesia karena kebutuhan minyak nasional belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri.
“Kalau soal BBM, faktor dari luar negeri sangat besar karena de facto kita sebagai bangsa ini memang ketinggalan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Apalagi, Iran memiliki posisi strategis karena berada di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi global.
Meski demikian, Qodari meminta masyarakat tidak khawatir terhadap BBM bersubsidi. Ia memastikan pemerintah tetap menjaga harga Pertalite agar tidak ikut terdampak langsung oleh gejolak harga minyak internasional.
“Jangan lupa bahwa BBM di kita ini ada dua. Ada yang disubsidi, ada yang harga pasar yang disubsidi kan enggak naik, tetap,” ucapnya.
Menurut Qodari, berbagai langkah yang saat ini dijalankan pemerintah merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi kerentanan terhadap dinamika pasar global.


