JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan alasan di balik tingginya intensitas kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto yang belakangan menjadi sorotan publik. Menurutnya, lawatan internasional yang dilakukan Presiden bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi besar Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Penjelasan tersebut disampaikan Teddy sebagai respons atas kritik dan masukan diplomat senior Dino Patti Djalal yang mengusulkan agar Presiden lebih banyak menggunakan jalur diplomasi virtual atau mendelegasikan sejumlah misi luar negeri kepada Menteri Luar Negeri.
Menurut Teddy, Presiden Prabowo memulai masa kepemimpinannya di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik bersenjata, persaingan kekuatan global, hingga ancaman terhadap stabilitas ekonomi dan energi dunia.
“Presiden Prabowo itu adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis,” kata Teddy.
Ia menyinggung sejumlah konflik internasional yang terus berkembang, mulai dari perang di Ukraina hingga ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara strategis.
Dalam situasi tersebut, Teddy menilai hubungan personal antar kepala negara menjadi faktor penting yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh komunikasi jarak jauh.
“Setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia,” ujarnya.
Menurut Teddy, diplomasi modern tidak hanya bertumpu pada hubungan antarnegara secara formal, tetapi juga pada kedekatan personal dan kepercayaan yang dibangun langsung antara para pemimpin dunia.
Karena itu, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan komunikasi ketika menghadapi situasi darurat.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya,” tegasnya.
Teddy menjelaskan bahwa strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Presiden Prabowo memperkuat posisi Indonesia di tengah perubahan tatanan global yang berlangsung cepat.
Menurutnya, hubungan yang dibangun melalui pertemuan langsung sering kali menghasilkan tingkat kepercayaan yang lebih kuat dibandingkan komunikasi melalui telepon atau konferensi video.
“Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Nah itulah diplomasi,” katanya.
Karena itu, Teddy menolak anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden hanya bertujuan memenuhi agenda protokoler atau pencitraan semata.
“Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan secara seremonial,” ujarnya.
Sebagai bukti konkret, Teddy menyebut sejumlah capaian yang menurut pemerintah lahir dari aktivitas diplomasi Presiden Prabowo selama satu setengah tahun terakhir. Di antaranya bergabungnya Indonesia ke kelompok negara-negara BRICS, penyelesaian kesepakatan tarif nol persen dengan Uni Eropa, masuknya investasi triliunan rupiah, hingga penguatan kerja sama pertahanan dengan berbagai negara.
Selain itu, pemerintah juga mengklaim diplomasi aktif Presiden berkontribusi terhadap kelancaran penyelenggaraan ibadah haji, dukungan kemanusiaan bagi Palestina, serta berbagai penyelesaian persoalan yang melibatkan warga negara Indonesia di luar negeri.
Bagi Teddy, hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa diplomasi tatap muka tetap memiliki nilai strategis yang tidak bisa diukur semata dari frekuensi perjalanan atau biaya yang dikeluarkan.
“Yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya,” pungkas Teddy.

