HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia bersiap memberikan insentif baru untuk kendaraan listrik demi mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan ini muncul di tengah harga minyak dunia yang diperkirakan masih tinggi dalam waktu lama.
Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kendaraan listrik menjadi salah satu solusi penting untuk menekan impor BBM nasional yang nilainya terus membengkak.
“Kelihatannya perang masih panjang. Artinya, konsumsi BBM kita juga akan masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi. Kalau saya bisa pindahkan ke listrik (lewat insentif untuk kendaraan listrik), itu akan mengurangi impor (BBM) kita dengan signifikan,” kata Purbaya yang dikutip Holopis.com dari Antara, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, pemerintah juga ingin memanfaatkan kapasitas listrik nasional yang belum terserap maksimal. Saat ini, sistem kelistrikan milik PLN menggunakan mekanisme take or pay, di mana pembangkit tetap dibayar meski listrik yang dipakai masyarakat tidak sepenuhnya terserap.
Karena itu, penggunaan kendaraan listrik dianggap bisa menjadi solusi untuk memanfaatkan kelebihan pasokan listrik tersebut.
Purbaya mengungkapkan subsidi kendaraan listrik akan mulai berlaku tahun ini. Pada tahap awal, pemerintah menyiapkan kuota masing-masing 100 ribu unit untuk motor listrik dan mobil listrik.
Untuk motor listrik, pemerintah sudah memastikan subsidi sebesar Rp 5 juta per unit. Sementara untuk mobil listrik, besaran bantuannya masih akan diumumkan lebih lanjut oleh Menteri Perindustrian dan Menteri Koordinator Perekonomian.
Menariknya, pemerintah juga akan membedakan skema subsidi berdasarkan jenis baterai kendaraan listrik yang digunakan.
“Itu untuk yang utamanya EV. Bukan hybrid. Jadi yang baterainya berdasarkan nikel dan non-nikel akan berbeda skemanya. Tapi yang itu nanti (dijelaskan) Menteri Perindustrian,” tambah Purbaya.
Pemerintah diketahui ingin mendorong penggunaan baterai berbasis nikel karena sejalan dengan strategi hilirisasi industri nasional. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dan ingin memastikan bahan baku tersebut memberi nilai tambah di dalam negeri.
“Kenapa saya pakai nikel yang besar subsidinya, karena supaya baterai kita kepakai,” jelas Purbaya.
Kebijakan ini diprediksi bakal membuat pasar kendaraan listrik di Indonesia semakin ramai, sekaligus mempercepat transisi masyarakat dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan berbasis listrik.




