HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kontroversi yang menyeret dunia kampus memaksa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil langkah tegas. Setelah viralnya konten Orkes Semi Dangdut HMT-ITB dengan lagu ‘Erika’ yang dinilai bermuatan kekerasan seksual verbal, kampus ternama ini langsung memperketat pengawasan etika mahasiswa.
ITB juga mendorong mahasiswa terkait pentingnya literasi media sosial. Langkah ITB jadi perhatian serius institusi pendidikan.
Pihak kampus menilai peristiwa tersebut sebagai momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai dasar akademik.
“ITB memandang peristiwa ini sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya kampus yang menjunjung etika, penghormatan terhadap martabat manusia, serta pencegahan segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual verbal,” kata Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Nurlaela Arief, dalam keterangannya dikutip pada Kamis, (16/4/2026).
Konten yang beredar dicap tidak sejalan dengan nilai akademik yang selama ini dijunjung tinggi oleh kampus. Sebagai bentuk tanggung jawab, HMT-ITB telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik. Mereka juga mengakui bahwa konten tersebut tidak mencerminkan nilai akademik.
Seluruh materi terkait baik video maupun audio sudah diupayakan untuk diturunkan dari berbagai platform digital.
Langkah ini jadi bagian dari upaya meredam polemik sekaligus memperbaiki citra organisasi mahasiswa.
ITB Fokus Perkuat Karakter
Lebih lanjut, ITB menegaskan bahwa penguatan karakter mahasiswa kini menjadi prioritas utama. Kampus tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga kesehatan sosial dan etika sivitasnya.
“Melalui penguatan etika, pembinaan karakter, serta sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang terus diperkuat, ITB berupaya menghadirkan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sehat secara sosial,” ujar Nurlaela.
Sebagai langkah konkret, ITB juga perluas program kampanye etika melalui Direktorat Persiapan Bersama (Ditsama). Program ini mencakup literasi media sosial; etika komunikasi digital; tata krama dalam berpenampilan di lingkungan kampus.
Mahasiswa didorong untuk lebih bijak, kritis, dan santun dalam menyampaikan pendapat di ruang publik digital tanpa menyerang pihak lain.
ITB juga telah mengaktifkan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) yang menjangkau seluruh kampusnya di Ganesha, Jatinangor, Cirebon, hingga Jakarta.
Peran Satgas ini menyediakan ruang aman bagi mahasiswa untuk melapor atau berkonsultasi terkait kasus kekerasan.
Tak hanya itu, materi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) kini diwajibkan dalam pembinaan mahasiswa baru sebagai upaya membangun kesadaran sejak awal.

