HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tradisi buka puasa bersama atau yang akrab disebut bukber ternyata memiliki makna lebih dari sekadar agenda berkumpul saat Ramadan. Praktik yang populer di Indonesia ini bahkan telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengungkapkan bahwa tradisi buka bersama merupakan fenomena budaya yang lahir dari ekspresi keberagamaan umat Islam di berbagai belahan dunia.
“Ini adalah sumbangan yang sangat besar dari negeri kita. Budaya bukber tidak hanya menjadi khazanah baru bagi tradisi Islam Indonesia, tapi juga telah menjadi warisan budaya dunia,” ujarnya dalam siaran pers di laman resmi Muhammadiyah, dikutip Holopis.com, Minggu (7/3/2026).
Menurut Mu’ti, tradisi tersebut menunjukkan bagaimana ajaran agama dapat menjadi sumber nilai yang kemudian melahirkan praktik budaya yang hidup dan diterima luas di masyarakat.
Tradisi Bukber Juga Ada di Sejumlah Negara Muslim
Meski identik dengan Ramadan di Indonesia, tradisi buka bersama ternyata juga dikenal di berbagai negara mayoritas Muslim seperti Turki, Uzbekistan, hingga Azerbaijan.
Namun, setiap negara memiliki corak pelaksanaan yang berbeda.
“Namun, pelaksanaan buka bersama di beberapa negara tersebut tentu memiliki corak yang berbeda. Hal ini karena budaya merupakan ekspresi dari pandangan hidup masyarakat, yang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama sekaligus konteks sosial, budaya, serta situasi dan kondisi di masing-masing negara,” jelasnya.
Mu’ti menegaskan bahwa tradisi ini berakar dari ajaran Islam yang tercermin dalam sejumlah hadis mengenai keutamaan berbuka puasa dan memberi makan orang yang berpuasa.
“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan: Ketika berbuka ia bergembira dengan berbukanya, dan ketika bertemu dengan Rabb-nya, ia bergembira karena puasanya,” ujar Mu’ti, mengutip Hadist Riwayat Muhammad, diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Ia juga menambahkan hadis lain mengenai keutamaan berbagi makanan saat Ramadan.
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga,” tegasnya menambahkan Hadist Riwayat Tirmidzi.
Ajaran tersebut kemudian berkembang menjadi praktik sosial berupa buka puasa bersama yang dilakukan secara luas oleh masyarakat Muslim di berbagai negara.
Bukber Jadi Ruang Kebersamaan di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, Mu’ti menilai tradisi bukber bahkan telah melampaui batas komunitas keagamaan.
Ia menyebut buka bersama di Indonesia sering diikuti oleh berbagai kalangan, termasuk masyarakat dari agama lain, sehingga menjadi ruang kebersamaan di tengah keberagaman.
“Buka bersama di Indonesia tidak hanya milik umat Islam. Bahkan pemeluk agama lain juga turut memeriahkan dan menyelenggarakannya sebagai arena social gathering, arena untuk berbagi suka dan kebahagiaan,” ungkap Mu’ti.
Karena itu, ia menilai tradisi bukber menjadi contoh nyata proses **vernakularisasi Islam**, yakni ketika ajaran agama dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat melalui ekspresi budaya yang khas dan kontekstual.
“Inilah contoh ketika agama dimaknai dengan pendekatan kultural. Maka ia bisa menjadi tradisi yang diterima semua kalangan, tradisi yang ternyata telah memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia,” pungkas Mu’ti.

