HOLOPIS.COM, JAKARTA – Eskalasi Timur Tengah makin memanas setelah sebuah kapal perang Iran dilaporkan tenggelam di Samudra Hindia akibat serangan torpedo dari kapal selam militer Amerika Serikat (AS). Insiden itu menandai memanasnya konflik yang sebelumnya didominasi serangan udara dan rudal.
Menurut pernyataan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, kapal selam AS berhasil menargetkan fregat Iran yang berada di perairan internasional.
“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” kata Hegseth dikutip dari TRT World, Jumat, (6/3/2026).
Dia menggambarkan serangan itu sebagai bukti kemampuan militer Washington untuk menjangkau target di mana pun dalam konflik yang semakin meluas.
Hegseth menyebut operasi itu sebagai ‘kematian yang tenang’. Sebab, hal itu mengacu pada metode serangan bawah laut yang jarang terlihat namun mematikan. “Seperti dalam perang itu, kita berjuang untuk menang,” ujarnya.
Serangan ini disebut sebagai peristiwa bersejarah. Sebab, jadi pertama kalinya sejak Perang Dunia II kapal perang musuh dihancurkan menggunakan torpedo yang diluncurkan dari kapal selam AS.
Kapal yang tenggelam dilaporkan adalah fregat Iran IRIS Dena, yang saat kejadian berada di wilayah Samudra Hindia. Area itu tak jauh dari perairan Sri Lanka. Insiden tersebut memperluas dimensi konflik dari udara dan darat menjadi konfrontasi langsung di laut.
Otoritas Sri Lanka menyatakan mereka menerima panggilan darurat dari kapal tersebut pada dini hari. Kapal perang Iran itu dilaporkan berada sekitar 40 kilometer di selatan kota pelabuhan Galle ketika sinyal darurat dikirimkan.
Tim penyelamat Sri Lanka kemudian menemukan kapal tersebut telah tenggelam sepenuhnya. Dari kapal itu hanya menyisakan tumpahan minyak di permukaan laut.
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, mengatakan operasi pencarian masih berlangsung. Sebanyak 32 awak kapal berhasil diselamatkan. Namun, sekitar 148 pelaut dilaporkan hilang. Wakil Menteri Luar Negeri Sri Lanka menyebut setidaknya 80 orang diyakini tewas dalam insiden tersebut.
Pesawat angkatan laut dan kapal patroli Sri Lanka terus melakukan pencarian di area tenggelamnya kapal. Sejumlah jenazah juga dilaporkan telah ditemukan dari lokasi kejadian.
Sri Lanka Tegaskan Sikap Netral
Pemerintah Sri Lanka menegaskan pihaknya hanya menjalankan kewajiban kemanusiaan. Hal itu sesuai hukum maritim internasional dengan merespons panggilan darurat tersebut.
Para pelaut yang terluka kemudian dibawa ke rumah sakit di wilayah selatan Sri Lanka dengan pengamanan ketat. Pihak berwenang juga menolak merilis rekaman proses penyelamatan karena melibatkan unsur militer asing.
Sri Lanka sendiri telah menyatakan netral dalam konflik Timur Tengah yang kini semakin memanas.
Pentagon sebelumnya menyatakan bahwa salah satu tujuan utama operasi militer AS dan Israel adalah melumpuhkan kemampuan angkatan laut Iran.
Tenggelamnya kapal perang ini dianggap sebagai eskalasi dramatis dalam konflik yang terus berkembang. Selain meningkatkan ketegangan geopolitik, insiden tersebut juga menimbulkan kekhawatiran baru bagi jalur pelayaran internasional yang melewati Samudra Hindia—salah satu rute perdagangan paling penting di dunia.


