HOLOPIS.COM, JAKARTA – Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme pemerintah terhadap kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026. Pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini berpotensi lebih tinggi dibandingkan kuartal keempat 2025, didorong oleh berbagai stimulus dan program pemerintah yang ditujukan untuk menguatkan konsumsi masyarakat serta belanja negara.
“Pertumbuhan di kuartal pertama tahun ini diharapkan bisa lebih tinggi dari kuartal keempat yang lalu karena berbagai program baik dari stimulus Pemerintah kemudian juga berbagai program lain yang diharapkan bisa mendorong makro ekonomi terutama dari segi konsumsi dan kedua dari segi belanja Pemerintah juga akan terus didorong,” tutur Menko Airlangga, sebagaimana informasi yang diterima Holopis.com, Kamis, (5/3).
Selain membahas proyeksi pertumbuhan ekonomi, Airlangga juga menyoroti dinamika global yang berpotensi memengaruhi perekonomian, termasuk meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, konflik tersebut berpotensi berdampak pada stabilitas energi global, terutama jika terjadi gangguan pada jalur distribusi minyak dunia.
Meski begitu, ia menilai kondisi fiskal Indonesia masih relatif terkendali. Hal ini didukung asumsi harga minyak dalam APBN yang berada di kisaran USD70 per barel, sementara harga minyak global saat ini dinilai masih berada pada level aman.
Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) juga telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan energi nasional. Salah satu upaya yang dilakukan adalah diversifikasi sumber pasokan energi, termasuk kerja sama pengadaan minyak dengan Amerika Serikat.
Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,4 persen. Target tersebut akan didorong melalui penguatan sektor-sektor prioritas seperti pertanian, manufaktur, ekonomi digital, dan ketahanan energi.
Sejumlah program prioritas nasional juga diharapkan mampu mendorong permintaan domestik sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja. Program tersebut di antaranya program Makan Bergizi Gratis, penguatan Koperasi Merah Putih, komersialisasi Danantara, peningkatan investasi asing langsung (FDI), serta pembangunan tiga juta rumah di berbagai daerah.
Airlangga juga menegaskan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen selama ini merupakan hasil sinergi antara konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, serta berbagai kebijakan pemerintah melalui program perlindungan sosial dan stimulus fiskal guna menjaga daya beli masyarakat.
Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan rasio perpajakan, digitalisasi sistem pajak, serta investasi dalam pembangunan sumber daya manusia, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis.
“Salah satunya bagaimana implementasi yang harus diawasi yaitu Coretax. Karena kalau Coretax-nya jalan, itu dari PPN aja mungkin kita bisa dapet tambahan 2-3%. Jadi kita tetap optimis dengan perbaikan penerimaan, maka perekonomian akan lebih solid,” pungkas Airlangga.


