HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengecam keras tindakan Israel yang kembali menutup Masjid Al Aqsa selama tiga hari berturut-turut. Penutupan tempat suci umat Islam itu dinilai sebagai tindakan serius.
Politikus yang akrab disapa HNW itu mengatakan demikian karena belum pernah terjadi sebelumnya Masjid Al Aqsa ditutup saat bulan suci Ramadan.
Informasi mengenai penutupan masjid tersebut disampaikan oleh Imam dan Khatib Masjid Al Aqsa, Syaikh Ikrimah Shabir, serta melalui pernyataan terbuka Persatuan Ulama Palestina di platform X. Akibat kebijakan itu, umat Islam disebut tidak dapat melaksanakan salat wajib maupun salat tarawih di dalam Masjid Al Aqsa—yang dikenal sebagai kiblat pertama umat Islam.
Menurut HNW, situasi itu merupakan tragedi yang sangat memprihatinkan bagi umat Islam di seluruh dunia.
“Penutupan Masjid Al Aqsa selama tiga hari berturut-turut di bulan Ramadan oleh Israel adalah tragedi dan merupakan kejadian pertama sepanjang sejarah,” kata HNW dalam keterangan pers di Jakarta, dikutip pada Kamis, (5/3/2026).
Ia menilai penutupan masjid terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah eskalasi konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Kondisi itu jadi sorotan dunia internasional yang terpecah sehingga situasi di Al Aqsa tak mendapat sorotan maksimal.
Selain itu, HNW juga menyoroti penutupan kembali perbatasan di Rafah Crossing yang menyebabkan bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza semakin terhambat.
Dia bilang kelakuan zionis Israel itu makin menjadi perhatian publik. Sebab, bersamaan dengan kembali dilanggarnya perjanjian damai ketika Israel menutup lagi perbatasan di Rafah.
“Sehingga bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang sebelumnya terlaksana tidak sampai sepertiga dari yang disepakati, kini bahkan tidak lagi dapat dimasukkan,” katanya.
Ia mengingatkan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) agar tidak mengabaikan situasi Masjid Al Aqsa, yang merupakan simbol penting bagi perjuangan rakyat Palestina.
HNW menyampaikan keselamatan Masjid Al Aqsa memiliki kaitan langsung dengan masa depan kemerdekaan Palestina. Jika kawasan tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Israel, maka peluang terwujudnya solusi dua negara (two-state solution) dinilai akan semakin sulit direalisasikan.
“Apabila Masjid Al Aqsa sampai jatuh dalam kekuasaan Israel, terlebih jika diubah menjadi Solomon Temple seperti yang diinginkan Zionis Israel, maka ide menghadirkan Palestina merdeka sekalipun dalam skema two state solution tidak akan dapat diwujudkan,” ujarnya.
Pun, ia juga menyinggung sejumlah langkah yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Hal itu termasuk penangkapan Imam Masjid Al Aqsa serta upaya di parlemen Israel atau Knesset untuk memindahkan hak administrasi pengelolaan masjid kepada lembaga keagamaan Yahudi.
Padahal, menurut HNW, lembaga kebudayaan dunia UNESCO sejak 2016 telah menetapkan Masjid Al Aqsa sebagai warisan budaya umat Islam.
Maka itu, HNW mendorong pemerintah Indonesia sebagai anggota OKI untuk mengusulkan penyelenggaraan KTT luar biasa tingkat kepala negara anggota OKI. Hal itu penting untuk membahas langkah konkret penyelamatan Masjid Al Aqsa dan Palestina.
“OKI seharusnya segera mengambil sikap konkret sesuai latar belakang pendiriannya, yaitu untuk menyelamatkan Masjid Al Aqsa dan memerdekakan Palestina agar penutupan Masjid Al Aqsa segera diakhiri, masjid dapat dibuka kembali,” ujarnya.


