Sabtu, 21 Feb 2026
BREAKING
Sabtu, 21 Feb 2026
MEMUAT...
-- --- ----
00:00:00
...
-- ...
Imsak 00:00
Subuh 00:00
Dzuhur 00:00
Ashar 00:00
Maghrib 00:00
Isya 00:00

Andong Pocong, Urban Legend Pascabencana di Sidoarjo

15 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di balik pesatnya pembangunan dan geliat modernisasi wilayah ini, masyarakat masih menyimpan kisah lama yang hingga kini terus diperbincangkan. Salah satu cerita yang kerap disebut warga adalah legenda “Andong Pocong”, sebuah urban legend yang diyakini pernah meresahkan sejumlah desa pada awal 2000-an.

Cerita tersebut kembali menjadi perbincangan karena dinilai sebagai bagian dari folklor lokal yang berkembang di tengah perubahan sosial masyarakat.

- Advertisement -

Muncul Pasca Bencana Lumpur Lapindo

Menurut penuturan sejumlah warga, kisah Andong Pocong mulai beredar setelah peristiwa semburan lumpur panas Lumpur Lapindo yang berdampak besar pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Sidoarjo.

Beberapa wilayah seperti Krian dan Prambon disebut-sebut menjadi lokasi utama munculnya cerita tersebut. Warga mengisahkan adanya sebuah andong atau delman tanpa penumpang yang melintas pada larut malam. Di bagian belakangnya, konon terlihat empat sosok pocong dengan wajah berlumuran darah dan kain kafan kotor.

- Advertisement -

Meski tidak pernah ada bukti visual yang dapat diverifikasi, cerita ini menyebar luas dari mulut ke mulut dan menjadi pembicaraan hangat di lingkungan warga.

Suara Misterius di Atas Tengah Malam

Salah satu elemen yang paling sering diceritakan adalah suara roda andong yang terdengar jelas saat suasana benar-benar sepi. Warga menggambarkan bunyi “klotak… klotak… klotak…” yang ritmis, menyerupai roda kayu yang melintas di atas aspal atau paving.

Suara tersebut dikabarkan muncul selepas tengah malam, ketika tidak ada aktivitas kendaraan di jalan desa. Fenomena inilah yang membuat sebagian warga merasa waswas dan memilih untuk tidak beraktivitas di luar rumah saat malam semakin larut.

Dampak Sosial di Tengah Trauma

Para orang tua pada masa itu disebut lebih waspada. Anak-anak diminta masuk rumah sebelum tengah malam, sementara pintu dan jendela dipastikan tertutup rapat. Situasi tersebut menciptakan suasana mencekam di sejumlah kampung.

Tetua desa menilai, cerita Andong Pocong tidak sekadar kisah horor, melainkan simbol keresahan sosial pascabencana. Sebagian masyarakat meyakini sosok tersebut sebagai roh yang belum tenang, sementara lainnya melihatnya sebagai bentuk peringatan agar warga tetap mematuhi norma dan adat setempat.

Beberapa keluarga bahkan melakukan ritual sederhana sebagai upaya perlindungan diri, terutama di tengah kondisi psikologis masyarakat yang masih terguncang akibat bencana.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
15 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru